KPU Papua Tetapkan 5 Anggota KPUD Paniai yang Bermasalah dan Satu Keluarga

Posted on Updated on

adam_aJayapura, Bodipost  :  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua telah menetapkan KPUD tujuh kabupaten pada 30 Januari 2013 dengan SK Nomor 75/B2/KPU.PROV.030/I/2013.

Penetapan anggota 5 KPUD Paniai dinilai sarat permainan. Anggota KPU Papua dinilai tidak kredibel dalam penetapan KPUD Paniai. Lima orang anggota KPUD Paniai yang ditetapkan dinilai berasal dari satu keluarga besar dan bermasalah.

“Kami menilai, KPU Papua tidak kredibel dalam penetapan ini. Mereka itu semua satu warna, satu kelompok. Apakah mereka ini yang akan selenggarakan Pemilu 2014. Politik kampungan,” kata Yulius Gobay, Alumni STPMD APMD Yogyakarta ini dengan nada marah-marah usai mendengarkan hasil di Jayapura.

Dijelaskan, selain 5 anggota KPUD itu berasal dari satu keluarga, juga ada beberapa masalah administrasi. Fredrik Mote misalnya, saat ini ia berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Nabire.

Sementara, Ham Nawipa dan Pelipus Tenouye dikabarkan sebagai Pendamping Distrik PNPM Mandiri-Respek, Caleg pada tahun 2009, dan sebagai Pengurus Parpol.

“Kenapa mereka ini lulus seleksi. Ini ada kepentingan apa? KPU Papua bisa mencari uang, tetapi caranya bukan begitu, dengan menetapkan orang-orang yang bermasalah,” kata salah satu intelektual Paniai yang tidak ingin namanya disebutkan.

Kata sumber ini, Fransiska Kadepa misalnya, saat ini ia masih belum mencapai 30 tahun. “Fransiska Kadepa itu lahir di Toyaimoti, 5 Februari 1987. Dia tamat SMA tahun 2005, lalu Yudisium 9 Agustus dan Wisuda pada 15 Agustus 2012 dari S-1 Fakultas Sastra Unipa. Tapi, ijazah yang ia kumpul sebagai persyaratan adalah kelahiran 1983. Ini ada dugaan scan, tapi KPU Papua tidak memastikan atas dokumen pengaduan masyarakat,” tuturnya di Jayapura.

Penggafer Fransiskus Zonggonau juga sama dengan Fransiska Kadepa, yakni belum memenuhi umur, kelahiran 1984.

Diungkapkannya, “KPU Papua menjadi Tim Seleksi (Timsel) untuk Paniai: 10 besar dianulir, dan digodok kembali dari 20 besar hingga menetapkan 10 besar dan terakhir 5 besar. Dalam 5 besar, tidak ada orang dari 10 tertinggal hasil kerja Timsel KPU Paniai. Terkesan, KPU Papua bunuh perasaan calon peserta, karena 5 yang terpilih, justru yang dari 10 besar terdahulu dan diduga kuat ini semua hasil permainan pihak tertentu untuk kepentingan jangka pendek (Pileg, Pilpres) dan jangka panjang yaitu Pilkada Paniai tahun 2018 mendatang,” tutur sumber yang tidak ingin namanya disebutkan itu.

Sumber lain dari Paniai kepada majalahselangkah.com malam ini mengatakan, pihaknya kecewa dengan penetapan ini. Kata dia, oknum anggota KPU Papua sudah tentukan siapa dari antara 5 orang itu yang akan jadi ketua, empat lain tinggal dukung.

“Kami khawatir cara-cara seperti ini dari KPU Papua hanya akan menciptakan kondisi daerah tidak stabil. Paniai ini daerah konflik, KPU Papua mestinya benar-benar melihat kondisi daerah yang ada, tidak boleh seperti ini,” katanya emosional. (GE/MS)

___________@Majalah Selangkah Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s