Puncak Prahara Partai Demokrat

Posted on Updated on

demokorupsiJakarta :  Kompleks perumahan Puri Cikeas Indah di Gunung Puteri, Bogor, tampak lain dari biasanya pada Kamis (7/2/2013). Beberapa mobil mewah tampak hilir mudik memasuki perumahan yang dihuni presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak pukul 20.30 WIB, sejumlah mobil yang membawa para petinggi Partai Demokrat tampak memasuki halaman kediaman pribadi Yudhoyono. Ya, malam Jumat itu, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengumpulkan sejumlah petinggi Partai Demokrat di kediaman pribadinya untuk membahas mengenai sejumlah permasalahan yang menerpa partai itu.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh antara lain Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. “Para menteri dari Partai Demokrat dipanggil, untuk melaporkan tentang situasi Partai Demokrat selama beliau melaksanakan tugas negara sekaligus umroh,” kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Syarif Hasan.

Menurut Syarif, yang juga Menteri Koperasi dan UKM, Yudhoyono telah menemukan sejumlah opsi untuk menata kembali Partai Demokrat, saat berada di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi. “Opsi itu adalah bagaimana untuk menata kembali Partai Demokrat ini dan juga bagaimana agar melakukan suatu manajemen organisasi untuk semua kader-kader Demokrat,” katanya. Dia juga menyebutkan adanya rencana memanggil semua anggota Majelis Tinggi Partai pada Jumat sore (8/2).

Aksi presiden setelah datang dari lawatannya ke beberapa negara di Afrika itu lantaran diminta oleh petinggi Partai Demokrat untuk menyelamatkan partai. Maklum, selama SBY berada di luar negeri terjadi pertentangan internal di antara kader Partai Demokrat gara-gara hasil survei yang menunjukkan tingkat elektabilitas PD menurun pada tingkat yang mengkhawatirkan sejumlah kalangan di partai tersebut. Mereka akan meminta Presiden sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat mengambil tindakan atas turunnya elektabilitas partai.

Survei Saiful Mujani Research Center menyimpulkan perolehan suara Partai Demokrat turun hingga 8,3%, menurut dia, segera menjadi opini publik bahwa posisi Partai Demokrat sudah merosot tajam. Padahal hasil pemilu legislatif 2009 Partai Demokrat memperoleh suara 20,85%, kemudian pada Februari 2013 merosot tajam menjadi 8,3%.

Penurunan ini menguat desakan agar SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat akan mengambil alih posisi Ketua Umum yang kini dijabat Anas Urbaningrum. Posisi Anas, yang sering dikait-kaitkan dengan korupsi proyek Hambalang, dianggap merugikan citra partai.

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyadari partai yang dipimpinnya saat ini tengah mengalami penurunan tingkat kepercayaan publik atau elektabilitas. Hal tersebut terlihat dari munculnya hasil survei yang menunjukan anjloknya tingkat keterpilihan Demokrat.

Oleh karena itu, Anas sendiri menginginkan Demokrat harus segera diselamatkan. “Jadi Partai Demokrat harus selamat dan harus diselamatkan. Siapa yang menyelamatkan? Ya kerja keras seluruh kader di bawah bimbingan ketua dewan pembina, DPP dan seluruh jajaran partai sampai ke bawah dan itu harus,” kata Anas.

Lebih lanjut, Anas juga menegaskan bahwa dirinya selama ini patuh akan perintah dan kebijakan yang kerap dikeluarkan Ketua Dewan Pembinanya, yakni Presiden SBY. Bahkan, ia memastikan bahwa tidak ada satu kaderpun yang tidak patuh oleh SBY apapun keputusannya. “Oh selama ini seluruh kader ikut patuh semua tidak ada yang tidak patuh,” tegasnya.

Meski begitu, Anas menyatakan bahwa hingga saat ini, ia belum pernah mendengar sama sekali adanya isu pelengseran dirinya dari kursi ketua umum terkait semakin turunnya tingkat elektabilitas Partai Demokrat. “Isu dari mana? Saya belum dengar tuh,” tegasnya.

Munculnya usulan agar Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum untuk mundur dari jabatannya, menurut Peneliti dari Maarif Institute, Fajar Rizal Ul Haq, hanya sekadar wacana dan tidak akan menjadi kenyataan. “Untuk melengserkan Anas sangat susah. Pasalnya, Anas memiliki lobi yang sangat kuat, baik di level elite maupun di tingkat bawah,” ujarnya.

Untuk saat ini, kata Fajar, keputusan terkait permasalahan di tubuh internal Demokrat berada di tangan Presiden SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Ramadhan Pohan menegaskan, permasalahan Partai Demokrat tidak semata-mata kesalahan satu atau dua orang, tapi ini persoalan bersama. “Menyangkut Mas Anas, beliau kan belum bersalah, belum tersangka,” ujarnya.

Ramadhan melihat, selama ini Anas Urbaningrum selalu mematuhi peraturan organisasi. “Saya kira enggak pas dipertentangkan antara Anas dengan Presiden SBY. Karena Mas Anas sejauh ini patuh, enggak ada yang aneh-aneh,” pungkasnya.

Nah, dinamika partai Demokrat tampaknya bakal mencapai puncaknya dalam pekan ini. Itu jika SBY mengambil tindakan tegas, bukan membiarkan prahara Demokrat berlalu tanpa solusi.***

_GATRANews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s