Demokrat dan Korupsi

Posted on Updated on

Oleh : Djoko Suud

SBY tegas ‘memohon’ kader partai yang korupsi mundur. SBY keras meminta, kader yang terlibat kasus korupsi mengundurkan diri. Ucapan itu sepertinya tertuju pada Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng. Selain Angelina Sondakh dan yang lain-lain. Adakah ketegasan yang tidak tegas itu akan diturut?

Makin hari, citra Partai Demokrat terus melorot. Itu sebagai konsekuensi logis atas tindak-tanduk pengurusnya. Sebagai partai penguasa yang gembar-gembor bersih dan wibawa, ternyata sikapnya jauh berbeda. Dugaan korupsi terjadi di mana-mana, dan menyeret seabreg pemimpinnya. Mantan bendahara Nazaruddin yang pertama, disusul Angelina Sondakh, dengan antrean segerbong elitenya.

Yang deras disebut diduga melakukan perilaku sama adalah Anas Urbaningrum, sang ketum, dan Andi Mallarangeng, Menpora. Jika dua yang terakhir ini benar-benar kelak menjadi tersangka, jangan salahkan konstituen kalau memberi cap pada partai bentukan SBY ini sebagai partai korupsi. Partai Demokrat dipelesetkan sebagai perwujudan ‘demokratisasi korupsi’, karena dipimpin oleh para koruptor.

Performa Partai Demokrat hampir pasti akan terus memburuk jika tetap dibiarkan seperti sekarang. Partai banyak faksi yang tidak akur-akur itu kian rawan ke depan. Apalagi roh partai, kejujuran dan rame ing pamrih tampil telanjang. Ada yang terduga korup dan ada juga yang memang korupsi.

Partai ini wajib segera bersih-bersih. Itu jika ingin partai ini tetap dijadikan kuda tunggangan dalam pemilu mendatang. Kalau tidak, maka Partai Demokrat hanya akan jadi penonton. Penonton yang dipermalukan. Ngunduh wohing pakarti (memanen buah dari tindakannya). Terpuruk jauh di bawah prediksi-prediksi normal.

Untuk membersihkan partai ini memang tidak gampang. Dibutuhkan tindakan radikal. Perlu sikap vivere pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya. Bahaya perang antar-faksi, intrik dan fitnah, dan mungkin saja partai ini akan terbelah. Namun tanpa itu, Partai Demokrat bak perahu kertas di laut luas. Terombang-ambing dalam ketidak-beraturan. Dengan demikian, mundurkah Anas?

Hampir pasti Anas tidak akan mengundurkan diri. Dia tahu bahwa politik itu kekuasaan. Kuasa yang sudah dipegang muskil dilepas, kendati risikonya membawa partai besar ini menjadi kerdil. Sebab jika itu dilakukan, masalah besar kemungkinan akan menimpanya. Sebab dia kehilangan ‘macan’ yang selama ini ditakuti penentang dan lawan-lawan politiknya.

Memang harusnya dewan pembina partai tegas dan langsung turun tangan. Pecat dan sanksi wajib dilakukan. Tapi dalam berbagai kesempatan sang dewan pembina hanya memohon dan meminta, agar kader partai yang bermasalah undur diri. Tidak berani mengambil resiko ricuh demi lajunya biduk partai. Akibatnya suasana partai tidak kondusif. Kubu-kubuan menonjol. Saling curiga tidak terhindarkan, dan ini yang kian menipiskan kepercayaan rakyat terhadap Partai Demokrat. Adakah hanya rakyat yang ragu terhadap partai ini?

Lihatlah sebait lagu dangdut yang dipelesetkan kader Partai Demokrat dan dikirimkan ke penulis. ‘Anggur merah, yang selalu memabukkan diriku, kuanggap belum seberapa, dahsyatnya, dibanding gonjang-ganjing Partai Demokrat’. Ya, kisruh di tubuh partai ini membuat semua kader mabuk. Tidak bisa berpikir jernih, dan tidak bisa menemukan solusi.

Adakah SBY akan tegas menindak elite partai yang terindikasi korupsi? Ataukah timbul kesadaran baru Anas, Andi Mallarangeng, dan Angelina Sondakh legowo mengundurkan diri? Rasanya kok itu tidak akan terjadi, dan partai ini tetap limbung sampai di batas akhir kekalahan.***

DetikNews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s