Kabupaten Boven Digoel Kini Memasuki Korupsi Jilid II

Posted on Updated on

Oleh : Muineto Xavier Mawan

Download Versi PDF

Tanah Merah Digoel, BodiPost – Kabupaten  Boven Digoel, Papua, kini di ambang kehancuran. Pendapatan dan daya beli masyarakat  rendah, angka  kematian  ibu  dan  anak  meningkat, gizi  buruk  menjadi  pemandangan  wajar,   kualitas  pendidikan  menurun  dan  pelayanan  publik  tidak  berjalan  dengan  baik.

Penyelewengan  dana  secara  besar-besaran  oleh  mereka   yang mengelolanya  menjadi  penyebab  utama  krisis ini.

Dana  yang   bersumber  dari  Anggaran Pendapatan  dan  Belanja   Daerah   (APBD), Otonomi  Khusus   (Otsus), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU)   lebih  banyak  dinikmati  oleh  pejabat  korup  dari  pada  warga  kabupaten  ini.

Sebuah  langkah  maju  telah  diambil  Komisi  Pemberantasan  Korupsi   (KPK) dengan  menangkap  Yusak  Yaluwo, mantan  Bupati  Boven  Digoel  periode  2005-2010.  Dia  ditangkap   KPK   di Bandara  Soekarno-Hatta  pada   15 April  2010.

Sebelumnya,  Ketua DPC  Partai  Demokrat  Kabupaten  Boven  Digoel  itu  berkali-kali   mangkir  dari  panggilan   KPK   dan merencanakan  pelarian  ke  negara  tetangga,  Papua   Nugini.

Yusak  dihadapkan  ke  meja  hijau  Pengadilan   TIPIKOR,  Jakarta,  dengan  dakwaan  menggelapkan   APBD  Boven  Digoel  Tahun  Anggaran  2007 dan  dana  Otsus.

Berdasarkan perbuatannya, Yusak  akhirnya  divonis   pada  2 November 2010 dengan hukuman 4,5  tahun  penjara, subsider  kurungan  6   bulan  dan  membayar  denda  sebesar  Rp. 200 Juta.

Pengadilan   TIPIKOR   juga  merampas  uang  sejumlah  Rp. 1,85  Milyar  dari  tangan  Yusak,   kemudian  membebankan  dia  mengembalikan  uang   yang   diselewengkan  sebesar  Rp. 54,7   Milyar.   Atas  vonis  ini, Yusak  Yaluwo   pun   mengajukan   banding   ke  Mahkamah  Agung  dan  sedang  menunggu   putusan.

Sebuah  sumber  terpercaya  menyebutkan Rp. 54,7  Milyar  diungkap  hanya  dari  dua  kesalahan.   “Ada sekitar 60-an kasusnya yang belum  dibongkar  dan  jika  dibongkar,   penyelewengan  uang  rakyat  Boven  Digoel  oleh  Yusak  bisa  mencapai  lebih  dari  Rp. 130   Milyar,”   ungkap  sumber  ini.

KPK, masih  menurut  sumber  ini,  sejak  awal  mengetahui  jumlah  Rp. 130 Milyar   yang diselewengkan  Yusak. “Bisa  saja KPK sedang  menyiapkan  bukti-bukti  itu  sebagai  amunisi  untuk  mengantisipasi  kemungkinan  terburuk, misalnya  jika  Yusak  menang   banding,” jelasnya  memprediksi.

Dari keterangan  para  saksi   yang   hadir di persidangan,   terungkap  bahwa  Yusak  memakai  uang  sebesar  Rp. 54,7  Milyar  untuk  memperkaya  diri  sendiri, keluarga  dan  minoritas  pendukungnya.

Para pendukung yang dibuat  rumah, dibelikan  peti  mati  dan  biaya  pengobatan  bertugas  untuk  menutupi  kejahatannya.  Mereka  rajin  berkampanye  tentang   “Kasih”   yang   identik  dengan  sosok  Yusak.

Selain  itu,  Yusak  juga  dikabarkan  menggunakan  uang  hasil  korupsinya  untuk  memenangkan  Pemilukada  Boven  Digoel  Tahun 2010.

Yusak  mengeluarkan milyaran rupiah untuk  membiayai  kecurangan  dalam  Pemilukada  Boven  Digoel 2010, mulai  dari  tahapan  pencalonan, verifikasi  berkas, kampanye, pemungutan,  perhitungan  dan  penetapan  perolehan  suara.

Yusak  Yaluwo yang telah  ditangkap  dan  menjadi  tahanan KPK 4 bulan  sebelum  Pemilukada  Boven  Digoel  pada 31 Agustus 2010 pun dimenangkan  dengan  cara-cara yang kotor.

KPUD   Boven  Digoel, sebuah  lembaga   yang   seharusnya  netral, secara  nyata  mendukung  Yusak  Yaluwo  secara  terbuka.

Ketua KPUD Boven  Digoel, Kristianus Guam, S. Sos, bahkan  menjadi Tim Sukses  Yusak  Yaluwo  dan  berkampanye  mengisi  jadwal  kampanye   Yusak.

Proses pemberian  rekomendasi  oleh KPUD Boven  Digoel  ke DPRD Boven  Digoel, DPRD Boven  Digoel  ke  Gubernur Papua dan  Gubernur Papua ke  Mendagri  untuk  penerbitan SK Pelantikan pun sarat  dengan  permainan  uang.

Kepentingan suku tertentu dari luar Boven Digoel sangat dominan. Mereka mau menjadikan kabupaten pemekaran dari Merauke ini sebagai lumbung penghasil uang dan peningkatan karier politik maupun birokrasi di pemerintahan maupun sektor swasta.

Permainan  kotor  ini  berakhir  dengan  pelantikan  Yusak  Yaluwo  sebagai  bupati  Boven  Digoel 2010-2015 pada  tanggal 7 Maret 2011 di Kantor Kemendagri, Jakarta, oleh  Gubernur Papua,  Barnabas Suebu.

Yusak pun dipecat  beberapa  menit  setelah  dilantik  dan  roda  pemerintahan  kabupaten  Boven  Digoel  dijalankan  oleh  wakilnya, Yesaya  Merasi, dengan kewenangan yang serba  terbatas.

Yesaya Merasi yang hanya berlatar belakang sebagai Guru SD dan pengkhotbah kaliber di sebuah gereja, dengan segala keterbatasannya, kini menjadi sasaran empuk tangan-tangan jahat.

Dalam kebingungan memperbaiki dan mengelola pemerintahan yang amburadul sejak kepemimpinan Yusak, Merasi terpaksa harus berkonsultasi ke berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab, diantaranya Yusak Yaluwo di LP Cipinang.

Mata   Rantai  Korupsi  Belum   Putus

Harapan masyarakat Boven Digoel untuk bebas dari penghisapan para koruptor ternyata jauh panggang dari api. Penangkapan  dan  hukuman   yang  dijalani  Yusak  Yaluwo  sesungguhnya  belum  memutus  mata  rantai  korupsi yang dia  bangun di Boven  Digoel  sejak  tahun 2005.

Terjadi pemberian tongkat estafet dalam kejahatan ini. Jika  korupsi yang dibangun  Yusak  sejak  tahun 2005 sampai  dia  ditangkap  tahun 2010 kita  anggap Korupsi  Jilid  I, maka kaki tangan  Yusak di bawah pimpinan Yesaya Merasi  saat  ini  sedang  melanjutkannya dengan mengambil tongkat estafet dari Yusak dan mulai membangun Korupsi  Jilid II.

Hal ini  bisa  terjadi  karena  Yusak  Yaluwo  masih  dengan  leluasa  mengendalikan  pemerintahan  dari  balik  terali  besi.  Dia  masih  berkuasa  sebagai  Bupati  dan  Ketua DPC Partai  Demokrat  Kabupaten  Boven  Digoel.

Jika  Muhammad  Nazaruddin  langsung  dipecat  dari  posisinya  sebagai  Bendahara  Umum DPP Partai  Demokrat, sekalipun langkah ini tidak lebih sebagai upaya pencitraan bagi Partai, padahal  dia  belum  terbukti  bersalah di hadapan  hukum, hal yang sama  tidak  dilakukan  terhadap  Yusak.

Ketika  ditangkap KPK dan terbukti merampok uang rakyat dalam jumlah besar, Ketua DPD Partai  Demokrat  Provinsi Papua, Lukas Enembe  tidak  langsung  memecat  Yusak  Yaluwo.

Lukas, menurut  beberapa  sumber  terpercaya,  bahkan  membayar  preman di Tanah Abang, Jakarta  dan  melakukan demo ke  KPK, menuntut  pembebasan  Yusak. Lukas juga terlibat aktif bersama DPP Partai Demokrat memberikan bantuan hukum kepada Yusak.

Sikap Partai  Demokrat  mungkin  bisa  dimaklumi.  Yusak  Yaluwo  adalah  Ketua   Tim   Kampanye   Daerah (Timkamda)   Provinsi   Papua   yang  berhasil  memenangkan  pasangan  Capres   SBY-Boediono  pada  Pilpres 2009 lalu.

Dari sisi  ini, Presiden SBY  yang tidak lain adalah  Ketua  Dewan Pembina Partai  Demokrat, memang  berhutang  budi  terhadap  Yusak.

Dalam beberapa kesempatan sebelum ditangkap, Yusak sempat mengumpulkan para pendukungnya dan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah ditangkap KPK karena sudah berhasil memegang orang nomor satu di Indonesia.

“Jika ditangkap pun saya pasti akan lolos karena berjasa untuk presiden kita, kalau tidak divonis bebas, ya,  pasti menang banding,”  kata Yusak menguatkan hati para pendukungnya.

Sisi  lainnya, Yusak  Yaluwo  secara  khusus  memiliki  hubungan  emosional  dengan  Ketua DPD Partai  Demokrat  Provinsi  Papua, Lukas Enembe.  Lukas   adalah   senior  Yusak  ketika  kuliah di Manado, Sulawesi Utara.

Sentimen “Alumni Manado” turut  mempengaruhi Lukas Enembe  sehingga  dia  terpaksa harus memelihara dan melindungi  satu orang kadernya   yang   terbukti  menyengsarakan  sedikitnya 50.000 warga  Boven  Digoel.

Faktor keluarga juga memainkan peranan penting dalam kasus ini. Dukungan dari beberapa pendiri Partai Demokrat diantaranya Hengky Luntungan, Vence Rumangkang, Max Rompas dan Wagiu Kaunang, datang bertubi-tubi kepada Yusak.

Para pendiri Partai Demokrat itu adalah ipar-ipar Yusak karena merupakan kerabat dekat isteri Yusak, Ester Lambey, yang berasal dari Manado. Ester, menurut sumber terpercaya, bahkan sedang dipersiapkan oleh Luntungan Cs untuk posisi wakil bupati Boven Digoel mendampingi Yesaya Merasi yang sudah mereka patok sebagai pengganti Yusak Yaluwo.

Praktek  balas  jasa, sentimen kota studi yang dipupuk selama kuliah dan pemeliharaan hubungan  kekerabatan yang  berlaku  di lingkaran elit   Partai  Demokrat  justru  menjadi  kendala  bagi  upaya  pemberantasan  Korupsi di Indonesia  saat  ini.

Kader   yang   terlibat  korupsi  tetap  diamankan  dengan  berbagai  cara. Sebagai  konsekwensinya,   rakyatlah, termasuk mereka yang  menjadi konstiuen Partai Demokrat dalam beberapa kali momen pesta demokrasi,   selalu  menanggung   penderitaan.

Opini  buruk  tentang  Partai  ini pun berkembang di tengah-tengah masyarakat.  Partai  Demokrat   dianggap  tidak  serius  memberantas  korupsi.  “Itu  Partai  pelindung  koruptor,” ujar  Niko, seorang  Mahasiswa  asal  Boven  Digoel  di Jayapura.

Pendapat  Niko  memang  mewakili  realitas yang sesungguhnya.  Korupsi di Boven  Digoel  telah  membuat  Mahasiswa  menderita.

Banyak  mahasiswa  asal  Kabupaten  Boven  Digoel yang saat  ini  kesulitan  biaya  pendidikan  karena  penyelewengan  dana  terus  dilakukan  oleh kaki tangan  Yusak  Yaluwo. Padahal, pendidikan merupakan salah satu program prioritas dalam Otsus Papua.

Saat  ini  mereka yang bersama  Yusak  Yaluwo  menikmati  uang  hasil  Korupsi  Jilid I sedang  melakukan  konsolidasi  ulang  untuk  memperkuat basis dan  membangun  Korupsi  Jilid II di Boven  Digoel.  Mereka  bekerja  langsung di bawah  kendali  Yusak  dari LP Cipinang.

Berbagai Stakeholders, terutama para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat, dilibatkan  dalam  kejahatan  ini. “Dibutuhkan  kerja  keras  untuk  membongkar kejahatan mereka yang sudah menggurita,” kata Bram, seorang aktivis LSM.

“LP   Cipinang   di Jakarta  kini   menjadi Kantor Bupati Boven Digoel dan Sekretariat DPC Partai Demokrat Kabupaten  Boven Digoel dimana terpidana Korupsi  mengendalikan  semuanya  dari  sana,”  ungkap   Victor, seorang   PNS di   lingkungan   Pemkab   Boven   Digoel.

Motif Korupsi  Jilid II sangatlah  jelas, yaitu  untuk  mengganti  semua  biaya yang dikeluarkan  Yusak  dalam  Pemilukada  Boven  Digoel 2010.  Motif lainnya, adalah  untuk  mengganti  Rp. 54,7  Milyar   yang dibebankan  oleh  Pengadilan   TIPIKOR   ke  pundak  Yusak.

Untuk  kasus  Boven  Digoel, KPK  memang  belum  secara  tegas  melakukan  pemberantasan  korupsi  sampai  ke  akar-akarnya.

Jika  korupsi di Boven  Digoel diibaratkan  seperti  sebuah  pohon, maka  penangkapan  Yusak  Yaluwo  oleh KPK dan vonis yang dijatuhkan oleh Pengadilan TIPIKOR atas dirinya adalah    tindakan   yang  baru  sebatas  memotong   ranting pohon. “Pohon  Korupsi”   masih  berdiri  kokoh  dan   tunas   muda  mulai  muncul  untuk  mengganti   ranting   yang   terpotong.***

_________

Catatan : Tulisan ini bersumber dari KabarIndonesia.Com dengan sedikit penambahan atas izin penulisnya.

8 thoughts on “Kabupaten Boven Digoel Kini Memasuki Korupsi Jilid II

    Digoelance said:
    30 Juni, 2011 pukul 6:38 am

    ….saya setuju dengan pendapat…penangkapan yusak diibaratkan sebagai memangkas rating pohon korupsi…namun yang jadi pertanyaannya adalah siapa sebetulnya …pokok pohon korupsi di Boven Digoel….dan tunas mudanya….selanjutnya adalah kalau kita ibaratkan korupsi sebagai pohon maka pemusnahan atau minimal bembonsaikan korupsi di boven digoel tidak hanya tanggung jawab elit partai dan pemerintah..tetapi adalah tanggung jawab bersama sesuai kewenangan …..Program BANSOS adalah salah satu program yang memiliki banyak celah terjadinya kebocoran anggaran yang mengarah pada tindak pidana korupsi….Animo masyarakat dalam meminta bantuan dana ke pemerintah turut memperluas kesempatan penyimpangan kewenangan..dan lain fenomena balas budi tim sukses….oleh sebab itu korupsi jilid dua dan seterusnya berpeluang terjadi atau tidak terjadi adalah tanggung jawab kita semua….hanya ada pesan yang dapat saya sampaikan sebagai sebuah prinsip sederhana yang bisa dijadikan bahan pergumulan kita bersama bahwa”…. KORUPSI BOLEH SAJA TERJADI asal BUKAN SAYA KORUPTORNYA… karena ….SETIAP ORANG PASTI BERDOSA tetapi TIDAK SETIAP ORANG MEMILIKI KARYA)*
    ( ORANG-ORANG BERDOSA INGIN BERKARYA; Bambang Trim/Julianto Eka Putra & KH.Abdulah Gimnastiar-MIC Publishing, Surabaya 2008 )*

    Gerson Asembisip said:
    7 September, 2011 pukul 1:56 pm

    saya setuju dengan pendapat anda tentang penangkapan Yusak Yaluwo, sh,msi. saya adalah masyarakat tulen Kabupaten Boven Digoel yang menderita karena korupsi yg dia jalankan di tempat kami….semoga dia merasakan hukumannya sampai tua di penjara…

    […] Tertangkapnya Yusak Yaluwo dan hukuman berat yang diberikan Pengadilan TIPIKOR kepada Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Boven Digoel itu ternyata tidak memutus mata rantai Korupsi di Boven Digoel. Orang-orang yang mengendalikan Yusak Yaluwo, memanfaatkan kebodohannya dan berhasil menikmati Uang Rakyat Boven Digoel dalam jumlah besar saat ini masih terus berkeliaran dengan leluasa, merekayasa Administrasi Pemerintahan Kabupaten Boven Digoel, memegang posisi penting dan berhasil merampok uang rakyat Boven Digoel untuk babak kedua. Mereka inilah yang saat ini secara nyata sedang menjalankan Korupsi Jilid II di Boven Digoel. […]

    kholombus garumtop said:
    11 Januari, 2012 pukul 11:28 am

    saya setuju dengan pendapat ini, krna bpk yusak tdak dpt melihat kmi org asli boven digul yg pnya keinginan untuk kuliah…

    Gerson P said:
    13 Januari, 2012 pukul 12:10 am

    Yusak Yaluwo yg didukung penuh Partai Demokrat masih tetap berkuasa dan memakai APBD Boven Digoel 2011 untk mengganti beban yg diberikan Pengadilan.

    […] Pemerintahan Boven Digoel saat ini macet total. Korupsi Jilid II semakin merajalela, Plh Bupati dan para pemegang SKPD selalu tidak berada di […]

    […] kalangan menilai, tindakan Yesaya Merasi merupakan strategi koruptor untuk tetap mempertahankan dominasi mereka di Boven Digoel dengan sokongan penuh dari para mafia di lingkaran provinsi Papua, diantaranya Sekda Provinsi Papua […]

    […] Bove Digoel Tahun 2010 sebesar Rp. 7 Milyar tanpa pertanggungjawaban. Karena dia berperan sebagai Tim Sukses Pasangan Yusak Yaluwo – Yesaya Merasi dalam Pemilukada Boven Digoel 2010, sampai saat ini dia mendapat perlindungan berlapis dari […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s