MIFEE Jadi Harapan Pemasok Pangan Indonesia dan Dunia

Posted on Updated on

Oleh : Business News

Pemerintah akhirnya menggelar grand launching program pengembangan food estate di Merauke, 11 Agustus lalu. Pemerintah berharap kawasan pangan terintegrasi atau Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) ini bisa menjadi salah satu pemasok kebutuhan pangan di Indonesia, bahkan dunia.

Suswono, Menteri Pertanian kepada Business News di Jakarta, Jumat (13/8) mengatakan, pemerintah mengharapkan pengembangan kawasan pertanian terintegrasi ini bukan hanya di Merauke, tetapi juga di wilayah Indonesia lainnya. Pemerintah memperkirakan ada 12 juta hektar (ha) lahan yang potensi di luar Pulau Jawa yang bisa digarap.

Di Merauke saja ada sekitar 2,5 juta ha lahan yang sesuai untuk sentra usaha budidaya tanaman pangan dan energi. Terdiri dari luas lahan basah sekitar 1,937 juta ha dan lahan kering 554,5 ribu ha.

Pemerintah mengharapkan, kawasan dan sentra budidaya tanaman pangan dan energi di Timur Indonesia menjadi sentra produksi pangan dan energi yang mampu memasok pangan baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Setidaknya dari kawasan itu bisa memasok tidak kurang 1,95 juta ton beras, 2,02 juta ton jagung, 167 ribu ton gula, 64.000 ekor ternak, 2,5 juta ton gula dan 937 ribu ton minyak sawit.

“Dari hasil produksi tersebut, setelah kebutuhan pangan dalam negeri tercukupi, kita akan bisa mengekspornya ke negara-negara di dunia yang sedang mengalami krisis pangan seperti negara-negara di Afrika.”

Dalam pengembangan kawasan pangan dan energi skala luas di Merauke ini, pemerintah lebih mengoptimalkan areal yang selama ini statusnya tidur. Nantinya lahan tersebut akan diubah menjadi lebih produktif, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi di tingkat daerah dan nasional.

Pemerintah juga berharap pengembangan kawasan pangan dan energi akan mampu menggerakkan perekonomian daerah, terutama investor lokal karena mendorong pertumbuhan agribisnis di Merauke. Keberadaan investasi di bidang pangan dan energi di Merauke juga akan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.

Pembukaan lahan skala luas di Merauke juga berfungsi sebagai kompensasi berkurangnya luas areal pertanian, khususnya di Jawa dan Bali. Penyusutan luas areal pertanian ini sebagai dampak alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, seperti pembangunan jalan tol dan perumahan.

Wk. Mentan Lahan yang siap seluas 760 ribu ha

Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Pertanian sementara itu kepada Business News, mengatakan meski potensi lahan di Merauke mencapai 2,5 juta ha, tetapi berdasarkan RTRW (rencana tata ruang wilayah). Provinsi Papua dan RTRW Kabupaten Merauke dan kesepkatan dengan Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) yang bisa digarap untuk program MIFEE hanya 760.897 ha.

Sebelumnya memang ada beberapa angka mengenai luasan lahan untuk MIFEE. BKTRN merekomendasikan seluas 1,28 juta ha dan Pemerintah Provinsi Papua dalam RTRW-nya seluas 550 ribu ha. “Setelah ada kebijakan moratorium penggunaan lahan gambut dan hutan, tim dari Pemerintah Pusat dan Daerah merekomendasikan 760 ribu ha yang bisa dimanfaatkan untuk MIFEE.”

Sebagai antisipasi terhadap rekomendasi luas lahan, pemerintah telah membuat grand desain jangka pendek tahun 2010-2014 dengan menetapkan empat Kawasan Sentra Produksi Pertanian (KSPP) dengan luas 480 ribu ha. Luasan tersebut berada di empat KSPP KSPP I Merauke seluas 99.900 meliputi Semangga, Sota, dan Tanah Miring dengan komoditas utamanya padi, jagungdan perikanan darat. KSPP n di Kumbe seluas 214.300 ha berada di Malin, Kurik,dan Animha. Komoditas utamanya tebu, jagung, kacang-kacangan, dan perikanan. KSPP HI di Yeinan seluas 82.900 ha meliputi Eligobel dan Jagebob.

Komoditas utama jagung, kacang-kacangan, tebu, buah,ternak, dan perikanan. KSPP IV di Biyan seluas 91.700 ha di Muting dan Ulilin. Komoditasnya kacang-kacangan, buah, ternak, dan perikanan darat. “Totalnya seluas 480 ribu ha. Artinya masih di bawah RTRW provinsi, apalagi dibandingkan dengan hasil tim pusat dan propinsi yang mencapai 780 ribu ha.”

Data Pemda Merauke, selama ini kawasan sentra produksi padi berada di Merauke, Semangga, Kurik, Tanah Miring, Okaba dan Kimaam. Untuk komoditi kedelai berada di Jagebob, Malind, Muting, Elikobel, Okaba dan Kimaam. Sedangkan jagung di distrik Semangga, Jagebob, Muting, Elokobel, Okaba dan Kimaam.

Pemerintah optimitis MIFEE bisa berproduksi sesuai dengan target pada tahun 2012. Sebab, dari total KSPP tahap I tersebut masih ada Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 123.540 ha, sehingga tidak ada permasalahan lagi dengan kehutanan.

Hitung-hitungannya, jika lahan APL itu dikembangkan untuk tebu bisa memberi tambahan produksi 300-400 ribu ton. Sedangkan jika untuk pengembangan lahan padi bisa menambah produksi 500 ribu ton.

Data Kementerian Pertanian sudah ada tujuh investor dalam negeri yang mulai menggarap lahan di MIFEE yaitu Wilmar Grup, Sinar Mas Grup, Bangun Cipta Sarana, Nusantara Indonesia (RNI), dan Medco Grup.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s