Papua Terancam Proyek Pangan Raksasa

Posted on Updated on

Oleh : Radio Nederland

Hari Minggu mendatang (Ahad ini) Merauke menggelar pilkada di tengah maraknya tuntutan-tuntutan yang menolak otonomi khusus. Otsus, atau otonomi khusus, bukan lagi “kemegahan jati diri Papua” sesuai adat Papua, seperti dicanangkan oleh almarhum Presiden Abdurrachman ‘Gus Dur’ Wahid, pada tahun 2001.

Demikian Chris Pekei, dosen antropologi-hukum, alumnus Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Sekarang, “kemegahan Papua” itu juga terancam oleh proyek raksasa MIFEE, Merauke Integrated Food and Energy Estate, atau Proyek Pangan dan Sumberdaya Terpadu Merauke. Gerakan mahasiswa Papua kini menuntut pelurusan sejarah dan referendum.

“Di Merauke terjadi apa yang pernah terjadi di Jaya Pura.” Dengan peringatan itu, antropolog-hukum asal Papua, Chris Pekei, rupanya berpesan, Pilkada Merauke sesungguhnya melawan arus yang berkembang dalam masyarakat Papua. Pilkada ini menjadi penting karena peralihan elit kuasa berbareng dengan akan dimulainya suatu proyek raksasa pengadaan pangan dan energi yang menelan lahan ribuan hektar di Merauke.

Ternodai

Namun, sejak beberapa tahun, Papua sudah meradang. Otonomi khusus, menurut konsensus yang berkembang, sudah sangat menyimpang dari gagasan awal Presiden Gus Dur yang bertujuan memulihkan identitas Papua di tengah keberagaman Indonesia. Bagi Papua, mengakui keberagaman, berarti juga mengakui hak-hak identitas, bendera, lagu dan adat Papua yang harus mempersatukan 250an suku bangsa di Papua.

Tetapi, menurut Chris Pekei, penguasa pusat mau pun elit lokal telah menodai semua ini. “Dinodainya sejak awal, korbannya tokoh Papua Theis Eluwai pada 2001. Lalu terjadi kekerasan antara aparat dengan kaum muda. Tetapi biasnya itu kepada siapapun orang Papua.”

Penodaan otsus melalui rangkaian pelanggaran HAM, menjadi bertambah gawat, ketika elit pusat mau pun daerah memanfaatkan otsus untuk memperbesar anggaran daerah, melalui pemekaran.

MIFEE

Kalau Otsus seolah sengaja digagalkan, yang lebih fatal tampaknya adalah proyek raksasa pangan dan energi MIFEE, yang diprakarsai Bupati Merauke John Gluba Gebze dan pemerintah pusat.

“Ini kejutan buat masyarakat. Masyarakat merasa kehilangan lahan. Dan ini ribuan hektar yang berubah tidak hanya alam saja yang hilang tapi tempat hidup mereka juga.”

Sementara itu, gerakan mahasiswa Papua yang bangkit sejak Mei 1998 kini meluas, dari Jayapura, Pegunungan Tengah sampai ke Jawa dan Bali, demikian Ketua Aliansi Mahasiswa Papua, Rinto Kogoya.

Walhasil, pemerintah pusat yang abai terhadap daerah, dan elit penguasa lokal, berrisiko menggiring Papua ke arah yang terburuk bagi semua pihak.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s