“Food Estate” Merauke Terkendala Harga Komoditas

Posted on Updated on

Oleh : Koran Kompas

Jakarta, Kompas – Investasi pertanian pangan dan energi skala luas di Merauke, Papua-Merauke Integrated Food and Energy Estate—bakal terkendala harga komoditas pangan yang tak lagi liar. Sementara janji pemerintah memberikan fasilitas investasi berupa pembangunan infrastruktur juga belum terealisasi.

Menurut Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin, Minggu (27/6) di Jakarta, harga komoditas pangan domestik ataupun internasional tidak lagi liar. ”Ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama investor untuk merealisasikan investasinya di Merauke,” katanya.

Dari diskusi dengan sejumlah pengusaha yang berminat menanamkan modalnya di Merauke, terungkap bahwa untuk komoditas jagung, investasi akan menjanjikan dan memberikan keuntungan bagus bila harga jagung minimal Rp 3.000 per kilogram jagung pipilan kering.

Hitungan sederhana menunjukkan, dengan produktivitas jagung 6 ton per hektar, pendapatan kotor pengusaha per hektar Rp 18 juta. Namun, dari penelusuran Kompas, saat ini harga jagung hanya sekitar Rp 2.200 per kilogram di tingkat petani. Sampai ke pengguna sekitar Rp 2.300-Rp 2.400.

Kecenderungan yang bagus justru pada komoditas beras. Harga beras kualitas medium saat ini mencapai Rp 5.500 per kilogram. Saat ini harga beras dalam negeri lebih tinggi dibandingkan dengan beras Vietnam atau Thailand untuk kualitas yang sama.

Peluang ada pada komoditas kedelai. Namun, kendala budidaya kedelai sangat kompleks karena banyaknya serangan hama, belum lagi soal produktivitas yang rendah. Adapun untuk komoditas gula masih menghadapi tantangan fluktuasi harga. Bustanul menengarai ada empat komoditas yang akan dikembangkan di Merauke, yakni beras, jagung, sedikit kedelai, dan gula.

Bustanul menyatakan, pertimbangan bisnis tetap akan menjadi pertimbangan utama para pengusaha yang berminat berinvestasi di Merauke. Jika hitung-hitungan bisnis menguntungkan, investor akan masuk.

Selain kendala tren harga komoditas, kendala lain yang bakal dijumpai terkait implementasi food estate adalah kesulitan pengusaha mendapatkan orang-orang yang memiliki kapasitas dalam mengelola bisnis besar tanaman semusim yang memiliki risiko tinggi.

Sampai saat ini belum terlihat orang yang punya kapasitas menonjol yang mampu mengelola lahan pertanian pangan dalam skala hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu hektar. Padahal, semua tahu, membudidayakan tanaman musiman tidak mudah.

Sedikit kurang pasokan air, gangguan iklim atau kendala hama dapat mengakibatkan kerugian besar. Kehadiran manajer lapangan yang andal dan menguasai teknik budidaya pertanian pangan skala luas mutlak diperlukan agar bisnis sukses.

Kendala lainnya adalah ketidakpastian kebijakan oleh pemerintah pusat yang dapat dijadikan pegangan bagi daerah dan swasta dalam melakukan investasi. Padahal, swasta dan pemerintah memerlukan dukungan kebijakan sebagai payung untuk bisa merealisasikan kegiatan. (http://koran.kompas.com | MAS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s