Greenomics: MIFEE Dipastikan Korbankan Hutan

Posted on Updated on

Oleh : Vibizdaily-Nasional

Greenomics Indonesia memastikan program pengembangan “Merauke Integrated Food and Energy Estate” (MIFEE) akan mengorbankan kawasan hutan produksi yang dikonversi (HPK) yang 75,16 persennya masih ditutupi hutan.

“Hanya seluas 366.612,39 hektare HPK di Merauke yang kondisi tutupannya sudah berupa tanah terbuka dan semak belukar,” kata Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi, di Jakarta, Selasa.

Ia mengungkapkan bahwa total kebutuhan pembukaan lahan untuk MIFEE mencapai hingga 2,5 juta hektare di Merauke. Dengan luas hanya 366.612,39 hektare HPK dan 139.333,3 hektare hutan produksi (HP) yang berupa tanah terbuka dan semak belukar, maka kekurangan lahan masih akan mencapai 1,994 juta hektare.

Berdasarkan studi Greenomics, ia mengatakan bahwa 4,7 juta hektare luas daratan Kabupaten Merauke seluas 3,42 juta hektare atau 95 persen masih dalam tutupan berhutan, dan areal tersebut akan terancam keutuhannya.

“Artinya 75,16 persen luas kawasan hutan Kabupaten Merauke masih dalam kondisi berhutan. Kondisi tutupan berhutan tersebut meliputi 71,46 persen luas daratan kabupaten tersebut,” ujar dia.

Dengan demikian, ia meminta kepada pemerintah untuk lebih realistis mengingat tutupan hutan di Kabupaten Merauke yang masih dominan. Ia menilai dengan total 505.945,69 hektare tanah terbuka dan semak belukar dari kawasan HPK dan HP sudah cukup mampu menggerakan perekonomian masyarakat Merauke.

“Kami mendukung pembangunan di Merauke, tapi mari kita coba dulu dengan 500.000 hektare dulu, kami rasa dampaknya akan memadai bagi masyarakat setempat. Kalau dibangun secara besar-besaran saya khawatir justru terjadi alokasi mega industri dan masyarakat lokal justru terabaikan,” ujar dia.

Apabila pembukaan hutan dilakukan di Merauke, ia memperkirakan 410,9 juta meter kubik kayu akan dieksploitasi dari luasan 2,26 juta hektare hutan yang tidak termasuk hutan lindung dan hutan konservasi.

Dari 410,9 juta meter kubik kayu terdiri dari 255,6 juta meter kubik kayu bulat kecil (KBK) dan 155,3 juta meter kubik berupa kayu bulat besar (KBB). Dari KBK yang dihasilkan tersebut bisa menghidupi hampir sembilan tahun industri bubur kertas Indonesia dengan kapasitas produksi maksimal.

Nilai estimasi kayu-kayu tebangan tersebut, menurut Elfian, akan mencapai Rp120,87 triliun.

Angka tersebut, ia menjelaskan baru menggunakan harga patokan rata-rata domestik untuk Papua. Namun jika menggunakan harga internasional nilainya bisa mencapai Rp375,51 triliun.

“Artinya akan ada surplus keuntungan dari penjualan kayu-kayu tersebut ke pasar internasional dengan keuntungan hingga 26,97 miliar dolar AS,” ujar Elfian.

Ia mengatakan perlu juga diwaspadai adanya pihak-pihak yang memanfaatkan situasi dengan menggunakan program pengembangan MIFEE untuk meraup keuntungan secara besar-besaran dari eksploitasi kayu di Merauke.

Dalam rangka mengupayakan ketahanan pangan Indonesia untuk jangka panjang, kementerian pertanian merencanakan program Food Estate di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Dalam program ini, kementerian itu bersama Pemda Marauke akan memberdayakan lahan-lahan potensial di Merauke yang belum tergarap untuk dijadikan lahan produksi tanaman pangan.

Agribisnis yang akan dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai, tebu dan sapi. Investor yang telah masuk ke proyek ini antara lain adalah PT Medco (mengembangkan padi, jagung, dan kedelai), PT Bangun Cipta (jagung), PT Wilmar (tebu), serta PT Industri Gula Nusantara (gula).***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s