Kelas dan Perjuangan Kelas

Posted on

Oleh : Ken Budha Kusumandaru

Pendahuluan

Berbicara tentang teori Ekonomi-Politik secara teoritik murni tidaklah menarik. Terlalu banyak rumus di sana. Jika kita mencoba memahami ekonomi-politik dengan cara ini, tidak ubahnya kita bagaikan ilmuwan sejati, yang pandai berbicara tapi tidak pandai berbuat untuk perubahan. Pendekatan terhadap ekonomi politik haruslah didasarkan pada keperluan kita yang paling pokok: bagaimana memahami tantangan yang kita hadapi dan melihat cara untuk mengatasinya.

Pada dasarnya, ekonomi-politik menyediakan alat analisa untuk membedah kondisi sosial masyarakat. Ada beberapa alat analisa yang disediakannya, tapi semua bermuara di sumber yang sama: dengan cara bagaimana berbagai individu dan kelompok dalam masyarakat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Mengapa hal ini yang dijadikan pokok permasalahan? Sederhana saja, karena persoalan inilah yang pertama-tama melingkupi manusia, bahkan seluruh bagian alam semesta yang dapat kita sebut sebagai “hidup”.

Persoalan ini adalah persoalan dasar yang telah dialami oleh mahluk setingkat virus. Seluruh mekanisme evolusi virus didasarkan pada pencarian cara-cara yang paling efektif baginya untuk mempertahankan kelangsungan kehidupannya sebagai sebuah spesies. Satu spora virus boleh hanya berumur beberapa jam namun sebagai spesies ia tak dapat dimusnahkan. Virus influensa, misalnya, adalah salah satu mahluk yang paling berhasil secara ekonomi untuk bertahan hidup.

Manusia berada di tingkat yang jauh di atas virus, walaupun ini hanya pada kompleksitas evolusinya saja. Manusia telah mengembangkan kesadaran, ia menjadi materi pertama di bumi ini yang mampu memahami dirinya sendiri dan materi lain yang ada di sekitarnya. Manusia adalah “hewan yang dapat berpikir” atau zoon politicon. Oleh karena tahapan perkembangan yang telah maju ini, manusia dapat mengembangkan jenis evolusi lain yang berbeda dengan mahluk-mahluk lainnya: kehidupan sosial. Dan karena kehidupan sosial ini berinteraksi pula dengan kehidupan ekonomi, maka keduanya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Kehidupan sosial-politik, yang mengurusi persoalan interaksi antar manusia dan berada di tataran ide, jelas bertentangan dengan kehidupan ekonomi yang mengurusi masalah material penunjang kehidupan. Tapi, justru karena pertentangan inilah keduanya menjadi tak terpisahkan dan saling menyaratkan bagi evolusi manusia itu sendiri sebagai sebuah spesies.

Jika keduanya tidak terpisahkan dan saling menyaratkan, adakah yang lebih utama di antara keduanya? Adakah di antara kedua hal itu yang mendahului sehingga roda interaksi di antara keduanya dapat berputar?

Ada. Persoalan ekonomi, tentu saja. Persoalan ini adalah persoalan yang paling dasar. Hanya karena manusia menempati tingkat perkembangan yang tertinggi di antara materi lainnya di atas bumi ini, tidak berarti ia dapat melepaskan diri dari hukum-hukum yang mengatur perkembangan materi itu sendiri. Manusia menemukan kesadarannya melalui perkembangan evolusi materi yang melingkupi dirinya sendiri dan lingkungannya. Maka, kesadaran itupun tunduk pada perkembangan evolusi materi itu – yang dalam hal ini mewujud dalam bentuk persoalan ekonomi.

Jadi, ekonomi-politik adalah ilmu analisa yang berusaha memahami kesadaran individu atau kelompok dalam masyarakat dengan melihat bagaimana ia mendapatkan alat-alat penunjang kehidupannya. Dengan kata lain, ekonomi-politik adalah ilmu untuk melihat bagaimana orang mendasarkan kepentingan politiknya pada kepentingan ekonominya.

I. Memahami Konsepsi “Kelas”

Kelas

Bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya? Jawaban yang paling wajar di sini, tentunya, adalah “kerja”. Sejak awal manusia, bahkan seluruh mahluk hidup lainnya, mulai ada di muka bumi ini, mereka mulai bekerja untuk mendapatkan makanan. Beberapa spesies yang tingkat perkembangannya lebih maju telah menggunakan alat bantu untuk mendapatkan makanan mereka. Namun, hanya manusialah satu-satunya spesies yang membuat alat.

Karena manusia membuat alat, maka ia relatif dapat mempertahankan keberadaan alat-alat itu di sekitar komunitasnya. Spesies lain, seperti monyet, hanya dapat menggunakan alat sampai alat itu rusak. Ia harus menunggu lagi untuk menemukan benda lain yang serupa. Namun manusia dapat menggunakan alat sepanjang ia suka karena ia selalu dapat membuat yang baru. Sejalan dengan berjalannya waktu, alat-alat ini semakin tahan lama dan pembuatannya makin mudah. Dengan demikian, manusia semakin tergantung pada alat kerja untuk pri-kehidupannya.

Ketergantungan manusia pada alat inilah yang kemudian menjadi landasan dari sistem produksi manusia. Sistem produksi ini adalah unik milik manusia. Tidak ada lagi spesies mahluk di bumi ini yang memilikinya. Tumbuhan “memproduksi” buah-buahan, beberapa hewan “memproduksi” susu. Tapi tidak ada di antaranya yang melakukan proses produksi dengan menggunakan alat-alat di luar organ-organ tubuhnya sendiri. Tidak ada lagi spesies yang kemudian penghidupannya tergantung pada alat yang dibuatnya sendiri.

Karena sistem produksi manusia tergantung pada alat maka siapa yang menguasai alat akan menguasai seluruh kehidupan manusia.

Inilah fakta utama dan terpenting dari seluruh sudut pandang ilmu ekonomi-politik.

Karena sejarah umat manusia semenjak itu adalah sejarah perjuangan antara mereka yang memiliki dan yang tidak memiliki alat produksi. Sejarah manusia bergerak ketika alat produksi telah menghasilkan cukup banyak hasil sehingga berlebih kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Alat produksi yang telah cukup maju untuk memproduksi hasil lebih ini kemudian menjadi sasaran perebutan antar berbagai kelompok.

Kelompok-kelompok yang berhasil menguasai alat produksi ini kemudian memaksa mereka yang tidak memiliki alat produksi untuk bekerja, tidak untuk diri mereka sendiri, melainkan bagi mereka yang memiliki alat produksi itu.

Dari pergerakan sejarah inilah lahir kelas-kelas dalam masyarakat.

Jadi, kelas-kelas dalam masyarakat bukanlah kategori yang dibuat sendiri oleh para ahli sosial. Kelas-kelas dalam masyarakat juga bukan sesuatu yang dapat dikarang atau malahan ditolak. Kelas adalah satu kenyataan kongkrit yang ada di tengah masyarakat: bagaimana hubungan satu individu atau kelompok masyarakat terhadap alat-alat produksi.

Kelas versus Golongan/Strata

Ilmu sosial yang selama ini kita kenal tidaklah membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas berdasarkan hubungannya dengan alat-alat produksi. Max Weber, misalnya, membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas berdasarkan tingkat penghasilannya. Talcott-Parson, sosiolog lain, membagi masyarakat ke dalam “golongan fungsional”.

Kedua teori ini menyangkal bahwa proses ekonomi adalah proses utama yang melandasi dinamika masyarakat. Hal ini sangat penting karena, seperti dapat kita raba dari uraian di atas, dalam tiap jaman pasti ada dua kelas utama yang saling berhadapan: mereka yang memiliki alat produksi dan mereka yang tidak memiliki alat produksi. Penting bagi mereka yang sedang memiliki alat produksi untuk mengaburkan kenyataan ini agar mereka yang tidak memiliki alat produksi tidak akan merasa bahwa kerja mereka dihisap oleh kelas pemilik alat produksi. Sekiranyapun terjadi perlawanan, karena kondisi tertindas tidak akan dapat sepenuhnya ditutupi, perlawanan itu akan keliru sasaran.

Kita tidak dapat menyangkal bahwa di dalam kelas itu sendiri terdapat banyak lapisan. Di antara mereka yang memiliki alat produksi, kita masih dapat membaginya menjadi seberapa jauh tingkat kepemilikan mereka atas alat produksi itu. Demikian pula di antara mereka yang tidak memiliki alat produksi. Kelas ini masih dapat lagi kita bagi dalam tingkat penghisapan yang dialaminya, atau berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukannya, dsb.

Namun demikian pembagian seperti ini tidak akan menunjukkan pada kita: bagaimana kelas-kelas itu muncul. Dan, yang lebih penting lagi: pembagian seperti ini tidak menunjukkan pada kita asal-usul dari ketimpangan sosial yang terjadi dalam masyarakat – ketimpangan sosial yang nyata, riil, ada di tengah masyarakat.

Dengan teori Max Weber, misalnya, kita bisa tahu bahwa ada orang kaya dan orang miskin dalam masyarakat. Tapi, dengan teori ini, kita akan mengira bahwa seseorang akan bisa menjadi kaya jika rajin menabung, berhemat dan mengencangkan ikat pinggang. Dari kenyataan sehari-hari kita tahu bahwa ini tidaklah benar secara umum. Berapa yang dapat ditabung seorang buruh pabrik, misalnya, sampai ia punya cukup uang untuk mulai membuka usaha sendiri. Sekalipun bisa, paling-paling usahanya adalah usaha yang tidak menghasilkan hasil lebih yang terlalu banyak sehingga hanya cukup untuk makan sehari-hari saja, tidak dapat dipakai untuk mengembangkan usaha lebih lanjut. Memang ada beberapa gelintir orang yang sanggup melakukannya. Tapi, jika jalan ini yang ditempuh, perbaikan nasib hanya akan terjadi secara individual – bukan secara kelas, secara keseluruhan masyarakat.

Teori Talcott-Parsons lebih parah lagi, ia sama sekali tidak mengakui persoalan kelas. Ia hanya mengakui adanya golongan dalam masyarakat, yang dibagi berdasarkan fungsinya. Ini jelas membawa kita lebih jauh tersasar dari upaya perbaikan masyarakat secara keseluruhan. Dengan mengkuti teori Talcott-Parsons, kita hanya akan melihat persoalan masyarakat secara terkotak-kotak. Perbaikan yang akan kita lakukan adalah perbaikan parsial, hanya sebagian-sebagian saja, tanpa memperhatikan dampaknya pada masyarakat secara keseluruhan.

Mereka yang menganut kedua teori di atas ini selalu menyatakan tuduhan bahwa ekonomi-politik terlalu menyederhanakan persolan ketika membedah masyarakat. Dengan demikian, menurut argumentasi mereka, penyelesaian yang ditawarkan adalah penyelesaian yang mengawang-awang dan tidak akan pernah dapat diterapkan. Tentu mereka menyadari bahwa, cepat atau lambat, orang akan melihat bahwa teori-teori mereka tidak akan pernah membawa perbaikan. Dengan demikian mereka berusaha menyerang lebih dahulu dengan intrik agar orang tidak berpaling pada ekonomi-politik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat.

Contoh di bawah ini akan menunjukkan bahwa persoalan ekonomi-politik tidaklah sesederhana yang dibayangkan orang.

Kelas-kelas Dalam Masyarakat

Marilah kita lihat di sekitar kita. Kita lihat ada kelompok kuli. Mereka memiliki cangkul dan sekop, menunggu di tempat-tempat tertentu untuk mendapatkan kontrak kerja membangun ini atau itu. Mereka ini digolongkan kelas yang mana? Kita lihat lagi, ada para petani. Mereka ini memiliki lebih banyak peralatan kerja, bahkan kadang memiliki pula sawah walau hanya sepetak-dua. Mereka ini termasuk kelas yang mana? Ada lagi pekerja pabrik, yang tidak ikut memiliki peralatan kerja di pabriknya, tapi memiliki juga beberapa peralatan tukang di rumahnya. Mereka ini termasuk kelas yang mana?

Perlu diperhatikan di sini bahwa persoalan kelas tidaklah tergantung pada sembarang peralatan, namun peralatan-peralatan utama yang dipergunakan untuk memproduksi barang kebutuhan masyarakat secara keseluruhan. Mengapa demikian, adalah karena “kelas” adalah kategori yang berada di tingkat pembahasan “masyarakat”. Tingkatan masyarakat mencakup lingkup yang luas, karenanya dalam melihat peralatan-peralatan produksi ini kita juga harus melihat pada lingkup yang sama.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa seorang kuli tidak ikut memiliki gerobak atau truk yang digunakan untuk mengangkut pasir dan semen, tidak ikut memiliki truk pengaduk semen, buldozer atau mesin pancang tiang. Alat-alat inilah peralatan utama yang dipergunakan untuk membangun satu gedung. Demikian pula seorang pekerja pabrik. Peralatan yang ada di rumahnya tidak dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, paling jauh hanya untuk membetulkan beberapa hal yang rusak di rumahnya saja. Maka, kedua kelompok masyarakat ini dapat kita katakan “tidak memiliki alat produksi”.

Maka, kepentingan kelas dari kedua golongan ini sama, karena pada dasarnya mereka hanya memiliki tenaga mereka. Di bawah kapitalisme, mereka harus menjual tenaga mereka pada para pemilik alat produksi. Dengan demikian, mereka sama-sama berkepentingan untuk berhadapan dengan para pemilik alat produksi.

Namun demikian, golongan kuli ini lebih tidak aman posisi penghasilannya daripada buruh pabrik dan lebih tidak terorganisir. Dari sini kita dapat melihat bahwa mereka akan lebih berpikir jangka pendek dalam menentukan garis politiknya, mereka akan bersedia mengikuti apa yang dikatakan oleh satu partai politik jika itu dapat memberi keuntungan baginya – sekalipun itu jangka pendek sekali. Kaum kuli akan mudah dipengaruhi untuk melakukan ini atau itu asal ia dapat melihat apa keuntungan baginya. Buruh pabrik akan berpikir lebih panjang kalau mengenai persoalan pilihan politiknya. Ia tidak mudah untuk diubah atau dibentuk kesadaran politiknya, tapi juga lebih sulit untuk digoyahkan ketika sudah terbentuk.

Di sini kita berurusan dengan persoalan kepentingan kelas dan watak politik. Ini dua hal yang berbeda namun sama-sama berhubungan dengan pola hubungan produksi – yakni pola hubungan antara mereka yang memiliki alat produksi dan mereka yang tidak memilikinya. Kepentingan kelas jauh lebih umum sifatnya dan juga lebih mendasar. Ini harus sangat diperhatikan ketika beragitasi-propaganda. Namun, untuk kepentingan praktek politik sehari-hari, persoalan watak politik ini yang akan lebih dominan dalam menentukan strategi politik harian.

Lain halnya dengan seorang petani, jika ia memiliki tanah, ia telah memiliki peralatan utama untuk menghasilkan kebutuhan masyarakat. Walaupun tanah tidak dapat kita sebut “peralatan” jika kita memandang hal ini dari sudut pandang bahasa, namun kita tidak dapat menyangkal bahwa tanahlah “mesin” yang menghasilkan seluruh produk pertanian. Jika dalam industri kain kita mengolah benang dengan mesin pintal menjadi gulungan kain, dalam pertanian kita mengolah benih menjadi produk pertanian melalui tanah.

Namun persoalannya terletak pada seberapa jauh ia menguasai tanah tersebut: berapa luasnya dan berapa tenaga kerja yang dibutuhkannya untuk mengolah “mesin” itu agar menghasilkan produk pertanian, dan berapa hasil yang dihasilkan oleh “mesin” itu. Selain menentukan seberapa jauh ia dapat bertahan, hal ini juga akan menentukan posisi kelasnya. Jika tanahnya kecil saja dan hasilnyapun tidak seberapa, mungkin ia hanya akan mendapatkan cukup untuk sekedar makan sekeluarga. Namun, jika ia menghasilkan berlimpah-limpah, ia akan mendapatkan banyak hasil lebih dan ia dapat disebut “menguasai kekuatan produksi”.

Di sini kembali persoalan “kepentingan kelas” dan “watak politik” kita jumpai.

Petani kecil akan dapat diradikalisir jika kepentingan ekonominya, yakni kepemilikannya atas tanah, dirampas. Atau, ia juga akan menjadi radikal jika itu dapat membantunya memperoleh kepemilikan yang lebih besar atas tanah. Dengan demikian, ada peluang dari watak politik ini untuk mendekatkan perjuangan petani kecil ini pada perjuangan kelas pekerja yang juga bertujuan untuk memperebutkan penguasaan atas alat-alat produksi.

Namun, kepentingan kelas keduanya berbeda. Kelas proletariat mencita-citakan penguasaan bersama atas alat-alat produksi, yang akan digunakan untuk kepentingan bersama pula. Sementara petani kecil mencita-citakan penguasaan pribadi atas tanah, yang kemudian juga akan digunakan untuk kepentingan pribadinya.

Dari sini terlihat bahwa sekalipun kelasnya berbeda, yang satu pemilik yang satu bukan pemilik alat produksi, namun karena watak politiknya berdekatan kelas proletariat dapat bergandengan tangan dengan golongan petani kecil. Namun, kita harus mewaspadai kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul setelah kemenangan tercapai. Kita sudah dapat memastikan 90%++ bahwa antara keduanya akan timbul pergesekan kelas yang tajam.

Demikianlah kita telah melihat ilustrasi bagaimana persoalan kelas ini tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Untuk lebih jelas mengenai kelas-kelas dalam masyarakat, kita akan melihat perjalanan sejarah muncul dan berkembangnya kelas-kelas ini.

II. Munculnya Masyarakat Berkelas

Masyarakat Tanpa Kelas

Seperti telah disebutkan di muka, bangkitnya kelas berkaitan dengan perkembangan kemampuan manusia untuk menggunakan alat demi menghasilkan barang-barang yang dibutuhkannya untuk menunjang kehidupan.

Sebelum peralatan dapat dibuat dengan cukup maju, manusia tidak pernah mendapatkan hasil berlebih untuk penghidupannya. Alat-alat dari batu, kayu atau serat otot hewan yang mereka miliki tidak cukup efektif untuk berburu atau mengumpulkan hasil hutan. Oleh karenanya pri-kehidupan mereka amatlah berat. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari untuk berburu, menangkap ikan atau memetik buah-buahan dan akar-akaran liar.

Namun, justru karena tidak ada hasil lebih, tidak ada kondisi material yang memungkinkan manusia berpikir tentang bagaimana memperebutkan hasil lebih. Para ahli sejarah telah sepakat bahwa masyarakat purba hidup dalam suasana komunal. Mereka berburu bersama atau mengumpulkan bahan makanan bersama-sama, laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, dan hasilnya dinikmati bersama-sama. Perburuan dilakukan hanya sampai kebutuhan tiap orang tercukupi. Kemudian, dengan satu upacara, hasil buruan atau pengumpulan bahan makanan ini dibagi sesuai kebutuhan tiap orang. Jika ada hasil berlebih, kelebihan ini dibuang. Mereka tidak memiliki sarana pengawetan atau penyimpanan sehingga kelebihan hasil itu tidak akan ada gunanya disimpan untuk esok hari. Hari ini untuk hari ini, besok kita cari lagi.

Karena kehidupan amat keras, kerja sama menjadi satu hal yang vital artinya untuk bertahan hidup. Tiap orang, tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan, memiliki hak dan kewajiban yang sama, memiliki hak berpendapat yang sama. Demokrasi “satu orang-satu suara” diterapkan secara alamiah dalam komunitas-komunitas ini.

Pola kehidupan macam ini ternyata memberi manusia tingkat kepuasan yang tinggi. Sedemikian tingginya sehingga sejak fajar kemanusiaan menyingsing, pola kehidupan ini dapat bertahan menjadi pola kehidupan yang utama di atas muka bumi selama 600 ribu tahun. Bahkan, sampai di jaman modern pola kehidupan seperti ini masih bertahan.

Bangsa Indian Amerika, misalnya, memiliki sistem pengaturan masyarakat yang sangat dekat dengan pola komunal purba ini. Sekalipun mereka telah memiliki kepala suku yang jabatannya diwariskan dalam keluarga, namun penunjukkan kepala suku itu masih melalui ujian-ujian yang berat untuk melihat apakah calon kepala suku yang baru layak menduduki jabatan tersebut. Setidaknya ada tiga ujian yang harus dilewatinya: ujian menahan siksaan, ujian mempertahankan diri ketika diburu dan ujian kemampuan berburu dengan memburu burung rajawali dengan hanya berbekal pisau. Ketiga ujian ini adalah bekal bertahan hidup bagi bangsa Indian. Mereka harus meyakinkan diri bahwa orang yang mereka angkat sebagai pemimpin benar-benar memiliki kemampuan yang berada di atas rata-rata kemampuan mereka sendiri. Jika calon kepala suku tersebut tidak sanggup menjalankan ujian itu, ia akan mati dan orang lain yang akan ditunjuk berdasarkan ujar-ujar Dewan Penasehat yang terdiri dari orang-orang yang dituakan dan yang dianggap pandai. Walau demikian, setelah diangkat sebagai kepala suku pun kekuasaannya tidaklah mutlak. Pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah Dewan Suku, yang terdiri dari seluruh anggota suku – dan keputusannya haruslah mendapatkan persetujuan dari orang tua-tua. Kebanyakan dari orang yang mencapai usia lanjut dalam masyarakat bangsa Indian adalah perempuan, karena mereka tidak ikut berperang. Jadi, kedudukan perempuan tinggi sekali dalam masyarakat Indian. Struktur ini dihancurkan ketika para pendeta Kristen kulit putih datang dan mulai meracuni pikiran orang-orang Indian bahwa “kedudukan perempuan itu ada di bawah kedudukan laki-laki”.

Bangsa-bangsa Jermania: suku-suku Goth, Visigoth, Pict, Saxony, dll, juga menganut pola kehidupan yang sama sampai jauh ke abad ke-4 Masehi.

Orang-orang Kalahari, yang oleh orang kulit putih dijuluki “Hotentot”, menganut pola ini sampai jauh di abad ke-19. Malahan, mereka ini tidak memiliki struktur politik sama sekali. Semua orang mengambil keputusan bersama-sama, mengerjakannya bersama-sama dan menikmati hasilnya bersama-sama. Mereka masih pula mempergunakan alat-alat dari batu seperti halnya nenek-moyang mereka ribuan bahkan puluhan ribu tahun yang lalu.

Di Indonesia sendiri kita melihat suku-suku bangsa Papua, yang pola kehidupannya masih ketat menganut sistem komunal primitif ini. Banyak kisah yang mengatakan bahwa mereka lebih menyukai uang Rp 100 pecahan kertas daripada uang Rp 1000 atau Rp 5000. Jelas bagi mereka, kertas-kertas uang pecahan Rp 100 lebih berharga daripada pecahan lainnya karena warnanya lebih menarik. Mereka sungguh-sungguh hidup untuk hari ini, besok urusan nanti.

Jadi, pernah ada kurun waktu di muka bumi ini di mana kelas tidak dikenal. Orang yang mengatakan bahwa kelas-kelas dalam masyarakat adalah sebuah “takdir ilahi” bukanlah orang yang memakai otaknya. Atau mungkin ia memakai otaknya untuk berpikir: bagaimana mengamankan sistem kelas yang ada.

Kelas-kelas dalam masyarakat pernah tidak ada, dan sekalipun kehidupan berlangsung dengan keras orang masih terus mengingat masa-masa ini sebagai “surga” – di mana orang tinggal memetik, tinggal mengambil, untuk mendapatkan makanan. Secara naluriah, orang merindukan keadaan seperti ini, keadaan di mana sekeras-kerasnya kehidupan tetap dihadapi bersama dan dinikmati bersama.

Runtuhnya Masyarakat Tanpa Kelas

Tapi, pola kehidupan ini ternyata tidak dapat bertahan untuk hidup terus. Mengapa? Para ahli sejarah dan arkeologi masih memperdebatkan mengenai faktor-faktor apa saja yang memicu perubahan ini, dan bagaimana persisnya proses itu berlangsung. Namun, dari perdebatan ini, ada satu hal yang telah disepakati menjadi faktor yang membuat manusia harus semakin tergantung pada alat-alat yang dibuatnya tersebut.

Faktor itu adalah tekanan perubahan lingkungan. Para pemburu dan pengumpul itu sangat tergantung pada ketersediaan hewan buruan dan kondisi iklim yang sesuai untuk tumbuhan tertentu. Jika kondisi yang menunjang ketersediaan makanan itu lenyap, mereka akan berada dalam tekanan untuk mencari cara-cara lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Salah satu teori yang paling mutakhir mengemukakan fakta bahwa Jaman Es yang paling akhir dialami bumi terjadi sekitar 10.000 sampai 8.000 tahun yang lalu. Jaman Es terakhir ini dikenal dengan nama periode Younger Dryas. Pada saat ini, manusia telah menyebar ke berbagai penjuru bumi berkat ditemukannya cara membuat api 12.000 tahun yang lalu. Dalam kurun empat ribu tahun itu, manusia telah bergerak dari kampung halamannya di padang rumput Afrika Timur ke utara, menyusuri padang rumput purba yang kini dikenal sebagai Afrasia. Padang rumput purba ini membentang dari pegunungan Kenya di selatan, menyusuri Arabia, dan berakhir di pegunungan Ural di utara. Jaman Es tidak mempengaruhi mereka karena kebekuan itu hanya terjadi di bagian paling utara bumi sehingga iklim di daerah tropik-subtropik justru menjadi sangat nyaman. Adanya api membuat banyak masyarakat manusia betah berada di padang rumput Afrasia ini.

Namun, ketika periode ini berakhir, terjadilah perubahan iklim yang drastis, terutama di daerah sub-tropik. Suhu udara meningkat drastis. Suhu ini mencairkan es di daerah kutub dan subtropik dan mengeringkan padang rumput Afrasia. Perlahan-lahan padang rumput ini berubah menjadi tandus. Perubahan pola angin menyebabkan terjadinya abrasi (pengikisan) yang deras di permukaan tanah yang tandus ini dan mengubahnya menjadi butiran-butiran pasir. Padang rumput ini, perlahan-lahan, berubah menjadi padang pasir.

Perubahan ini, sekalipun berjalan sangat lambat kalau memakai skala waktu kita, ternyata berjalan amat cepat jika kita memakai skala waktu geologis sebagai patokan. Dalam waktu beberapa ratus tahun saja (yang tidak sampai sekejap mata jika dilihat dari skala waktu geologis) semenanjung Arabia telah berubah menjadi sebuah padang pasir. Untuk contoh modern mengenai kecepatan meluasnya padang pasir ini, Anda dapat melihat bagaimana Gurun Gobi kini membuat pemerintah “komunis” Tiongkok memutar otak dengan keras. Batas dari Gurun Pasir terluas di dunia ini kini mendesak maju dengan kecepatan 15 meter setahun. Kelihatannya ini tidak besar, tapi dalam waktu sepuluh tahun saja, batas ini akan maju sebanyak 150 meter. Jika ini terjadi di sepanjang perbatasan, dapat dibayangkan luasnya lahan subur yang ditelan oleh pasir.

Perubahan yang drastis ini menyebabkan banyak spesies hewan dan tumbuhan yang sebelumnya menjadi bagian penting bahan pangan manusia lenyap atau berkurang sampai tingkat kritis. Untuk menghindari padang pasir ini, banyak spesies yang kemudian berpindah, baik ke utara maupun ke selatan, untuk terus mencari lahan yang masih subur ditumbuhi rumput. Dan, pada gilirannya, masyarakat manusia itu juga harus berpindah mengikuti perpindahan hewan-hewan buruannya. Sebagian bergeser ke utara, sebagian lagi bergeser ke selatan.

Dalam pergeseran inilah beberapa masyarakat manusia “terjebak” di pinggir lembah sungai besar. Mereka yang bergerak ke selatan terdesak sampai ke pinggir lembah sungai Nil, yang ke utara terdesak ke pinggir lembah sungai Efrat dan Tigris.

Sebuah lembah sungai adalah wilayah yang amat sulit ditembus oleh manusia. Sekarang saja, dengan peralatan modern, masih sulit bagi kita untuk merambah sebuah lembah sungai yang masih perawan, seperti yang masih terdapat di daerah Amazon, atau lembah-lembah sungai di Papua. Apalagi pada masa itu ketika peralatan yang dikuasai manusia masih sangat sederhana. Karenanya, sejak masyarakat manusia yang pertama muncul, ia tidak pernah menetap di daerah lembah sungai. Mungkin ada juga masyarakat manusia yang berusaha masuk ke sana, namun karena peralatan mereka sangat tidak memadai dan ada cara hidup lain yang lebih mudah, mereka kemudian memilih untuk tetap tinggal sebagai pemburu dan pengumpul.

Berbeda keadaannya ketika ia didesak oleh berubahnya kondisi lingkungan. Di hadapannya ada padang rumput yang perlahan-lahan mulai ditelan oleh padang pasir. Di belakangnya ada lembah sungai yang masih perawan. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkan padang pasir itu (bahkan sampai sekarang manusia masih belum mampu menaklukkan padang pasir) karenanya ia kemudian secara nekat memasuki lembah-lembah sungai itu.

Pilihan yang diambilnya ini sangatlah berat. Tidak ada hewan buruan yang akan mengikuti mereka masuk ke dalam lembah-lembah sungai ini. Oleh karena itu mereka kemudian harus mencari sumber pangan baru untuk kelangsungan hidup mereka.

Di sinilah mereka kemudian menemukan bahwa pengetahuan mereka tentang biji-bijian ternyata amatlah berguna. Berbagai jenis tanaman dari keluarga rumput-rumputan (gandum, sorghum, padi, dll) ternyata dapat tumbuh dengan subur di daerah lembah sungai itu. Muncullah pertanian.

Pertanian inilah yang kemudian memberi landasan untuk munculnya kelas.

Pertanian dan Masyarakat Berkelas

Bagaimana pertanian dapat memunculkan masyarakat berkelas? Setidaknya ada beberapa faktor yang telah disepakati oleh para ahli sejarah dan arkeologi mengenai proses tumbuhnya kelas-kelas dalam masyarakat pertanian. Faktor yang pertama adalah munculnya hasil lebih. Faktor yang kedua adalah munculnya teknik fortifikasi atau pembangunan tembok. Faktor yang ketiga adalah munculnya astrologi dan matematika. Mari kita lihat satu persatu faktor ini, apa pengaruh masing-masing terhadap munculnya kelas.

Pertanian jelas merupakan pola produksi yang lebih maju ketimbang berburu atau mengumpulkan bahan makanan. Hasil yang didapat dari pertanian juga lebih banyak ketimbang kedua pola kehidupan yang mendahuluinya. Namun, pertanian tidaklah memberi hasil secara kontinyu seperti halnya berburu atau mengumpul, melainkan dalam paket-paket besar yang datang tiap beberapa waktu sekali. Hasil lebih ini harus disimpan sehingga bisa mencukupi keperluan hidup sampai datang masa panen berikutnya. Setelah hal ini berlangsung beberapa lama, orang mulai terbiasa dengan penghakkan terhadap hasil lebih.

Kondisi yang disediakan oleh pertanian telah membangkitkan satu kesadaran dalam benak masyarakat petani bahwa kepemilikan/penyimpanan/akumulasi terhadap hasil lebih adalah sesuatu yang wajar. Pemikiran seperti ini tidak akan timbul secara alami dalam benak masyarakat pemburu dan pengumpul. Di tengah masyarakat yang terdahulu, hasil lebih itu tidak ada atau, kalaupun ada, tidak disimpan dan diakumulasi. Sebaliknya yang terjadi di masyarakat pertanian di mana akumulasi dan penyimpanan adalah satu keharusan. Inilah kondisi material pertama yang memandatkan munculnya kepemilikan terhadap hasil lebih.

Sekarang, jika ada satu masyarakat memiliki kelebihan hasil yang dapat mereka makan sementara masyarakat tetangga Anda kelaparan, apa yang kiranya akan terjadi?

Perang. Mereka akan berebutan hasil lebih itu.

Tentu saja, bentrokan antar masyarakat manusia telah muncul sejak masyarakat manusia itu sendiri muncul. Satu kelompok manusia yang telah berdiam di satu tempat yang baik tentu akan bertarung dengan kelompok pendatang yang berusaha ikut masuk di sana. Tapi, pertarungan ini semata-mata adalah untuk mempertahankan sumber penghidupan dan bertujuan untuk mengusir para pendatang ini – bukan untuk menaklukkannya. Ini bukanlah “perang” dalam pengertian yang kita pahami sekarang. Tidak ada satupun kelompok manusia, sebelum pertanian bangkit, yang merencanakan penyerbuan atas kelompok manusia lain, untuk merebut sumber penghidupan mereka. Bentrokan-bentrokan ini terjadi spontan akibat pola penghidupan berpindah (nomaden) yang dianut oleh manusia. “Perang” dalam maknanya yang terjadi baru terjadi setelah masyarakat bertani muncul.

Data-data arkeologi telah menunjukkan bahwa perang (dalam pengertiannya yang sejati) baru dikenal manusia sejak ± 7.000 tahun yang lalu. Hanya sekitar 1.000 tahun setelah Jaman Es berakhir dan manusia mulai dipaksa untuk bertani. Desa bertembok tertua di dunia juga telah ditemukan di daerah Chatal-Huyuk di propinsi Anatolia, Turki. Desa ini juga berumur ± 7.000 tahun. Terlihat jelas dari sini bahwa hasil lebih yang diperoleh dari pertanian telah pula memunculkan kondisi untuk merebut dan mempertahankan hasil lebih itu.

Dari sini kita dapat memahami makna penting pembuatan tembok. Pada awalnya, teknik pembuatan tembok hanya berfungsi sebagai sarana untuk pembangunan tempat penyimpanan terhadap hasil lebih. Namun, belakangan, tembok ini juga berguna untuk mempertahankan hasil lebih tersebut. Sejarah telah mencatat bahwa perang-perang yang pertama kali dikenal oleh umat manusia adalah perang antara masyarakat petani dan masyarakat pemburu/pengumpul. Sungguh, pertanianlah yang telah memperkenalkan perang kepada umat manusia.

Tapi, kedua hal itu saja masih belum cukup untuk memunculkan masyarakat berkelas secara kongkrit. Masyarakat berkelas baru muncul akibat faktor ketiga, pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan pertanian itu secara efisien.

Misalnya saja, pertanian membutuhkan pengetahuan yang dalam tentang musim. Sebuah masyarakat pemburu/pengumpul tidak memerlukan pengetahuan ini. Ia tinggal mengikuti ke mana hewan-hewan buruan mereka pergi, tidak perlu bagi mereka untuk mengantisipasi kapan hewan-hewan itu akan pergi. Sebaliknya, tanpa pengetahuan yang dalam akan musim, sebuah masyarakat petani akan hancur dalam sekejap.

Sampai saat ini saja perhitungan orang akan musim, yang telah dibantu matematika tingkat tinggi semacam matematika chaos dan peralatan canggih seperti satelit, masih juga sering meleset. Apalagi di jaman ketika pertanian baru pertama kali bangkit. Karena begitu pentingnya peramalan yang tepat mengenai musim, orang-orang yang dapat membaca tanda-tanda alam mulai diberi tempat yang istimewa dalam masyarakat.

Namun tentu saja peramalan mereka lebih banyak unsur mistiknya daripada unsur ilmiahnya. Maka itulah “ilmu” yang berkembang pada jaman itu adalah astrologi, bukannya astronomi. Karena sifatnya yang lebih banyak mistiknya inilah kemudian upacara-upacara dan persembahan-persembahan menjadi hal yang penting dalam proses kehidupan masyarakat purba. Dan sebaliknya, ketika upacara-upacara itu menjadi semakin penting, semakin kokoh pula kedudukan orang-orang “pandai” ini karena merekalah satu-satunya kelompok yang tahu bagaimana upacara-upacara itu harus dijalankan.

Di samping itu, masyarakat pertanian adalah sebuah masyarakat yang menetap. Karena itulah mereka kemudian membutuhkan administrasi. Mereka perlu mengatur populasi, mereka perlu mengatur bagaimana persediaan pangan dikelola. Dan yang terpenting, mereka perlu mengatur pertahanan terhadap hasil lebih yang telah mereka peroleh itu.

Dari sinilah muncul satu kelompok orang yang diserahi tugas mengatur masyarakat. Mereka juga orang-orang yang cakap dalam mengatur pertempuran-pertempuran. Sama seperti halnya kelompok yang pertama, kelompok ini juga diberi kedudukan istimewa karena keahlian mereka yang penting untuk kelangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan.

Tahun berganti tahun, orang-orang yang berkedudukan istimewa ini mulai mendapat perlakuan yang istimewa pula. Mereka tidak perlu bekerja untuk menghasilkan bahan kebutuhan hidup mereka, melainkan dipasok oleh masyarakat. Dan, selang beberapa lama, muncullah satu kelompok orang dalam masyarakat yang tidak perlu bekerja untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Perlu diperhatikan bahwa proses terbentuknya kelompok ini berjalan sejajar dengan proses pembentukan ide tentang “kepemilikan pribadi”. Dengan demikian, pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang ini, yang menjamin penghidupannya, kemudian juga dianggap suatu kepemilikan pribadi. Mulailah terbentuk keluarga-keluarga yang secara turun-temurun hidup dari sokongan masyarakat karena masyarakat membutuhkan keahlian dan pengetahuan mereka. Pada saat inilah kelas mulai menampakkan dirinya dalam kehidupan masyarakat manusia.

Kepemilikan pribadi berkembang sejalan dengan perkembangan kekuatan produktif itu sendiri. Jika dengan alat-alat sederhana manusia dipaksa untuk berkooperasi, bekerja sama, dalam mencari makan, dengan adanya alat-alat yang lebih maju proses ini mulai dapat dilakukan seorang diri.

Contohnya demikian: dengan busur dan panah yang sederhana seperti yang dimiliki oleh suku-suku di Papua, misalnya, tidaklah dimungkinkan untuk mendapatkan buruan besar. Burung-burung dan hewan-hewan kecil lainnya mungkin masih bisa diperoleh, namun untuk menangkap hewan yang berukuran besar dibutuhkan satu kerja kelompok. Kerja sama ini menjadi semakin penting di padang-padang rumput di mana hewan-hewan buruan biasanya bergerak secara berkelompok dan bahaya mati terinjak-injak oleh ribuan ekor hewan mengancam tiap pemburu yang berani mencoba mendekat.

Namun, ketika manusia mulai mengenal pertanian, pekerjaan untuk menggarap tanah semakin lama justru semakin menjadi pekerjaan pribadi. Terlebih ketika berbagai peralatan telah diciptakan untuk membantu kerja pertanian itu. Kita dapat melihat sendiri sisa-sisa pertanian primitif ini di berbagai tempat di Indonesia, di mana hanya panen dan menanam saja yang dikerjakan bersama-sama. Lain-lainnya dikerjakan sendiri oleh pemilik tanah.

Dan, seturut hukum perkembangan masyarakat, jika proses produksi menjadi semakin bersifat pribadi, kepemilikan atas hasil produksi juga akan menjadi semakin bersifat pribadi.

Tapi, bagaimana dengan mereka yang tidak bekerja? Mereka yang diberi makan oleh masyarakat untuk mengerjakan tugas-tugas administratif dan mengatur pola kerja masyarakat? Ketika kepemilikan masih menjadi milik bersama, mudah saja diputuskan untuk menyisihkan sebagian hasil kerja bersama itu untuk keperluan orang-orang ini. Dalam hal ini, apa yang mereka kerjakan dipandang sebagai sesuatu yang berguna bagi masyarakat secara umum. Tapi, seiring dengan semakin berkembangnya kepemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja, siapa yang akan memberi mereka makan?

Orang-orang yang memiliki hak istimewa ini tentunya tidak mau kehilangan hak istimewa mereka. Maka kemudian, perlahan tapi pasti, mereka mulai membangun satu lembaga untuk menjaga agar hak-hak istimewa mereka tidak hilang atau berkurang. Lembaga inilah yang bertugas memaksa orang untuk menyerahkan sebagian hasil kerja mereka untuk kepentingan orang-orang yang memiliki hak istimewa ini – baik dengan cara halus maupun kasar. Berdirilah negara.

Dengan demikian, kita menjadi maklum bahwa kelas penguasa yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah kelas pendeta dan ksatria.

Hal ini juga tercatat dalam ingatan purba manusia yang muncul dalam kisah-kisah dalam kitab suci agama-agama samawi tentang awal peradaban manusia di mana “dosa pertama” adalah pengetahuan yang kemudian membuat orang terpaksa bekerja keras dan kehilangan “surga” mereka. Sementara pembunuhan pertama yang tercatat dalam sejarah umat manusia dilakukan oleh petani. Setelah melakukan pembunuhan, petani itu pergi dan anak-cucunya mulai membangun tembok-tembok dan menara-menara. Karena menara-menara inilah (yang tentunya adalah menara-menara pengintai) Manusia kemudian tidak lagi dapat bersatu, perdamaian tidak lagi dikenal di atas muka bumi. Sekalipun disamarkan oleh pengaruh mistisisme yang pekat, kisah-kisah ini telah mengawetkan ingatan umat manusia atas sejarah munculnya masyarakat berkelas.

Perkembangan yang Tidak Merata dan Tercampur-aduk

Perubahan dari masyarakat tanpa kelas menuju masyarakat berkelas bukanlah terjadi dalam tahap-tahap yang jelas kapan berawal atau berakhirnya. Perkembangan ini melibatkan hukum-hukum “kuantitas ke kualitas” secara dialektik dan ketat. Perubahan-perubahan yang kecil-kecil tiba-tiba melompatkan sifat masyarakat secara keseluruhan. Lagipula, kondisi awal tiap masyarakat ketika proses perubahan ini terjadi sangat berbeda-beda sehingga munculnya masyarakat berkelas ini kadang terjadi di tahap yang lebih awal, kadang sangat terlambat, di berbagai belahan dunia.

Ada lagi sebab yang lain, yakni berkembangnya hubungan antar peradaban. Dengan adanya hubungan antar peradaban ini, satu peradaban akan mempengaruhi peradaban yang lain. Jika satu peradaban menaklukkan peradaban yang lain, misalnya, ia dapat memaksakan pola yang dianutnya sendiri kepada mereka yang ditaklukkannya. Sebaliknya, ia dapat juga menyerap pola yang berkembang dalam masyarakat taklukan itu. Rembesan pola kehidupan ini juga dapat terjadi melalui hubungan-hubungan diplomatik atau perdagangan, atau juga karena migrasi (perpindahan penduduk).

Dengan demikian kita dapat memahami mengapa tidak ada pola yang “baku” untuk melihat satu sistem peradaban. Kita tidak dapat, misalnya, menyebut satu masyarakat sebagai “perbudakan murni” atau “feudal murni”. Tiap masyarakat perbudakan pasti menyisakan pola-pola komunal, begitu juga tiap masyarakat feudal pasti menyisakan pola komunal dan perbudakan. Yang perlu kita lihat adalah pola kehidupan mana yang dominan, yang menguasai sebagian besar pri-kehidupan masyarakat. Pola yang dominan inilah yang harus kita perhatikan dalam membuat analisa.

Sebagai contoh, masyarakat Babilonia sudah mengenal bentuk kerajaan, yang berarti bahwa proses pembentukan kelasnya sudah relatif tuntas. Namun, bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa kehidupan komunal masih mendominasi kehidupan masyarakat Babilonia.

Hal ini juga tampak pada masyarakat yang kemudian dikenal dengan nama Israel atau Yahudi. Bahkan, seperti juga yang tercatat baik dalam bukti-bukti sejarah maupun dalam kitab-kitab suci mereka, para raja Israel tidaklah serta-merta mendapatkan haknya dari asal-usul keturunannya, melainkan dari pencapaian dan bakatnya. Apa yang terjadi pada masyarakat Yahudi ini sesungguhnya merupakan sisa dari pola kehidupan peternak-nomaden yang sebelumnya mereka jalani. Kita tahu dari sejarah bahwa bangsa Yahudi baru mengenal pertanian menetap setelah mereka menghancurkan pertahanan bangsa Kanaan dan Filistin (sekarang Palestina) dan menjarah kota-kota mereka. Karena bangsa Kanaan dan Filistin memiliki tingkat peradaban yang lebih tinggi, maka bangsa Yahudi kemudian menyerap peradaban itu. Namun penyerapan ini tidaklah sempurna karena bukan berasal dari perkembangan internal bangsa Yahudi sendiri sehingga yang terjadi adalah pola kehidupan yang tercampur-aduk.

Masyarakat Aztec juga telah mengenal bentuk kerajaan, namun dalam berbagai upacara seringkali para raja diharuskan membuat korbanan yang lebih besar ketimbang yang harus ditanggung orang biasa – termasuk korbanan darahnya sendiri. Ini sangatlah mirip dengan pola kepemimpinan yang dianut masyarakat Indian Amerika yang pri-kehidupannya masih sangat kental bernuansa komunal.

Dengan demikian jelaslah bahwa kita membutuhkan satu syarat yang akan dapat membuat kita dapat menyebutkan bahwa dalam satu masyarakat telah muncul “kelas”.

Dan syarat itu adalah perampasan terhadap hasil lebih.

Kita telah melihat di atas bahwa kelas-kelas itu sendiri muncul dari proses di mana satu kelompok masyarakat diistimewakan dan, dengan demikian, tidak perlu bekerja untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, lambat laun, kepemilikan itu sendiri menjadi suatu hal yang diterima luas di dalam masyarakat. Keinginan untuk hidup tanpa perlu bekerja namun sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup kemudian menjadi satu ide yang berkembang luas pula di dalam masyarakat.

Dan hanya ada satu cara untuk mendapatkan hal itu: dengan memaksa orang lain bekerja dan merampas hasil kerja orang tersebut. Berkembanglah pola masyarakat berkelas yang pertama: perbudakan.

Kesimpulan

Kemunculan masyarakat berkelas adalah hasil dari perkembangan sejarah itu sendiri. Ada kondisi-kondisi kesejarahan yang memaksa munculnya masyarakat berkelas itu. Dengan demikian, sekalipun perbudakan adalah sebuah tata kehidupan yang sangat kejam, kita tidak boleh mengabaikan bahwa di bawah perbudakanlah manusia mulai membangun kekuatan produktifnya, perbudakanlah yang memungkinkan munculnya benih-benih dari seluruh struktur kehidupan yang kita kenal sekarang: pengetahuan, teknologi, sistem sosial-politik.

Dan oleh karena masyarakat berkelas itu sendiri muncul dari sebuah keharusan sejarah, pelenyapannyapun harus muncul dari sebuah keharusan sejarah. Ada kondisi-kondisi tertentu yang akan memungkinkan hilangnya sistem kelas ini. Jika kondisi-kondisi ini tidak ada, pelenyapan sistem kelas hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Dan karena proses pembentukan masyarakat berkelas itu sendiri tidak sama/tidak merata, maka kita harus meneliti secara seksama struktur masyarakat berkelas di negeri kita sendiri agar kita tidak terjebak pada upaya menyalin strategi taktik yang dikembangkan untuk negeri lain, yang memiliki struktur kelas yang berbeda dengan struktur kelas di negeri sendiri.

Yang juga harus diperhatikan bahwa perlawanan atas ketidakadilan merupakan salah satu naluri dasar manusia. Dan secara alamiah, tujuan dari perlawanan ini adalah untuk membebaskan diri sendiri. Namun, kita telah belajar bahwa perjuangan pembebasan itu sendiri memiliki syarat-syarat tertentu, yang harus dipenuhi sebelum perjuangan pembebasan itu boleh mendapatkan kemenangan yang tuntas dan sempurna.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s