Presiden SBY = “Kaisar Romawi” Bagi Bangsa Papua

Posted on Updated on

Sebuah Catatan Ringan Untuk Renungan Natal Tahun 2004

Oleh : Es Lau Kapore

MENJELANG PESTA NATAL Tahun 2004 ini, Rakyat Papua, khususnya yang berdomisili di Kota Jayapura, Abepura, Sentani dan sekitarnya dikagetkan sekaligus disibukkan dengan rencana kedatangan Jenderal (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Kolonial Republik Indonesia yang ke – 6 (Enam) dalam rangka merayakan Pesta Natal bersama Rakyat Papua. Perayaan Natal bersama dijadwalkan akan dirayakan pada tanggal 26 Desember 2004, bertempat di Gedung Olah Raga Cenderawasih – APO – Jayapura yang akan dihadiri oleh 6000 orang yang telah diundang secara resmi. Sedangkan SBY sendiri akan berada di Jayapura sampai tanggal 27 Desember 2004.

Bagi orang Papua yang ke-Papuaan-nya telah dilumpuhkan oleh ke-Kristen-an versi Kolonialis – Imperialis, rencana Natal bersama SBY merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Apalagi ada informasi yang berkembang bahwa Kado Natal yang akan diberikan oleh SBY kepada Rakyat Papua adalah Paket MRP, sebuah Paket Undang-Undang yang menurut propaganda Kolonialis NKRI, akan membuat OTSUS menjadi sebuah Gerakan Pembebasan Orang Papua.

Berbagai persiapan untuk menghilangkan kesan kolonialisme Indonesia atas Papua Barat dilakukan : Instruksi pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan-jalan protokol, pemasangan bendera Merah Putih di setiap rumah penduduk (terutama orang Papua) dan di depan kantor-kantor pemerintah, Kampanye penjinakan orang Papua di Gereja-gereja maupun momen-momen penting seperti Natalan Organisasi, Asrama, Paguyuban, dll, supaya jangan memprotes kedatangan presiden SBY, dlsbnya.

Rencana Natalan bersama SBY di Tanah Papua tidak turun dari langit. Rencana ini adalah hasil dari lobby politik para tokoh Agama Kristen dan Katolik di Tanah Papua yang selama ini selalu berlomba-lomba mencium tangan penguasa kolonial Indonesia dalam rangka mengindonesiakan bangsa Papua yang mayoritas Kristen.

Untuk mendiskusikan tindakan para gembala yang tidak bertanggungjawab dan hanya patut mendapat kutukan dalam alam kesadaran Kristen ini, kita perlu membandingkan situasi Tanah Papua saat ini dengan situasi Palestina di zaman Kristus. Tetapi, kita perlu sepakat lebih awal bahwa upaya pembandingan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan bangsa Yahudi dengan bangsa Papua, karena selain ras dan latarbelakang historis kedua bangsa ini yang berbeda, upaya penyamaan hanya akan menguntungkan penjajah Indonesia karena perjuangan Papua Merdeka akan dijadikan semacam “Gerakan Tunggu Yesus”, sebuah gerakan yang menunjukkan impotensi orang Papua dalam berhadapan dengan penjajahnya.

*****

EMPAT INJIL SINOPTIK memberi informasi kepada kita bahwa pada zaman Kristus, Palestina adalah bagian integral dari Imperium Romawi. Artinya, kaisar Romawi yang berdomisili di Roma adalah penguasa politik yang tertinggi, sedangkan Palestina adalah sebuah daerah jajahan yang berbentuk provinsi.

Untuk melanggengkan kekuasaan kolonial atas bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang mereka taklukan, penjajah Romawi tidak mewajibkan satu aturan yang ketat. Mereka memberikan kewenangan kepada bangsa-bangsa terjajah untuk menjalankan pemerintahan sendiri tetapi tetap di bawah kendali Kaisar Romawi (semacam Otonomi di zaman modern).
Di Palestina, mereka mengangkat para raja pribumi seperti Lisanias, Filipus dan Herodes Antipas. Raja-raja pribumi ini “dipelihara” oleh Roma selama mereka masih tetap patuh dan taat serta aktif mengalirkan pajak dan upeti dalam jumlah besar ke Roma. Untuk menangani pemberontakan massa dan menjaga loyalitas pejabat pribumi, kaisar Romawi cukup mengangkat “Orang Kuat” sebagai Wali Negeri. Ketika Yesus mulai berkarya, raja Galilea adalah Herodes Antipas, Wali Negeri adalah Pontius Pilatus dan Kaisar Romawi adalah Tiberius.

Angkatan Bersenjata Romawi adalah Angkatan Bersenjata yang unggul dalam hal disiplin, ketrampilan perang dan penggunaan teknologi mutakhir. Tetapi, karena wilayah imperium Romawi sangatlah luas, maka penjajah Romawi merekrut orang-orang dari setiap daerah jajahan untuk menjadi tentara setempat. Pasukan-pasukan ini juga dididik, dilatih dan menguasai semua teori dan keterampilan militer yang sama baiknya dengan tentara Romawi : pertempuran satu lawan satu, penyerangan dan pertahanan dalam formasi, pembangunan benteng dan perlengkapan pengepungan, cara menindas massa yang memberontak dan berbaris menempuh jarak yang jauh segera setelah diperintahkan.

Orang-orang Yahudi pada zaman itu melihat dunia mereka sebagai sebuah piramida, dimana Kaisar Romawi, Elit lokal dan Tentara Roma maupun lokal yang berkuasa berada pada bagian atas, sedangkan diri mereka yang ditindas berada di bagian bawah. Bangsa Yahudi yang diperbudak tunduk kepada tuan-tuan mereka. Tuan-tuan ini bertanggungjawab kepada para pemilik tanah dan pejabat-pejabat kecil yang dikontrol oleh Wali Negeri setempat dan Istana Herodes di Tiberias. Herodes Antipas sendiri dikendalikan langsung oleh Kekaisaran Kolonial Romawi.

Keuntungan-keuntungan bangsa Yahudi yang diperoleh dari hasil pertanian dan peternakan dibebani pajak yang berat. Penjajah Romawi menarik pajak dari setiap orang Yahudi dan mengambil seperempat hasil bumi sebagai pajak tanah untuk dijadikan upeti kepada Kaisar Romawi setiap 2 (dua) tahun. Pajak penjualan atas barang-barang kebutuhan pasar diberlakukan di setiap kota besar maupun kecil dan hasil bumi yang ingin dijual keluar daerah dibebankan bea cukai yang berat.

Upaya melumpuhkan bangsa Yahudi juga terjadi melalui bidang keagamaan. Pada mulanya penjajah Romawi mengalami kesulitan dalam menguasai Tanah Palestina karena orang-orang Yahudi adalah bangsa yang selalu melawan bangsa asing atas dasar keagaamaan. Cara efektif yang diambil oleh penjajah Romawi adalah mengkooptasi, membangun kerjasama yang baik dengan para Imam Besar, Tokoh Agama Yahudi (seperti Kayafas), sehingga ajaran Agama Yahudi berhasil dipakai untuk melayani tujuan kolonialisme. Para Imam Besar, Tokoh Agama Yahudi di Yerusalem turut menghisap bangsa Yahudi (Jemaat mereka sendiri) dengan cara meminta sepersepuluhan dan menarik pajak Kenizah.

Berkat pengkhianatan terhadap bangsa (jemaat) sendiri dan kedekatan mereka dengan tahta Kolonialis Romawi, para pemimpin agama Yahudi berhasil memperoleh hak-hak istimewa dalam kehidupan mereka di bawah sistem kolonial Romawi : MAPAN secara Ekonomi, TERHORMAT secara Sosial, KUDUS secara Spiritual atau Rohani, AMAN secara Politik dan KEBAL secara Hukum.

Ajaran Agama Yahudi dan Tuhan mereka – YAHWE – kehilangan fungsinya sebagai sumber kekuatan, inspirator untuk melawan penjajah Romawi, karena telah dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan penjajah. Dengan lain perkataan, ajaran Agama Yahudi dan Tuhan mereka berhasil dipakai oleh penjajah Romawi sehingga yang terjadi adalah “Senjata Makan Tuan.”
Yesus Kristus yang lahir dalam situasi penindasan sosial, politik, ekonomi dan militer Romawi melihat bahwa satu sebab yang menjadi akar kekacauan social adalah “Pembiaran hubungan-hubungan antar manusia dikuasai dan didikte oleh UANG ( Modal dan Laba) dan TANAH.” Yesus kemudian menyatakan solidaritas yang sejati kepada kaum tertindas bangsa Yahudi. Ia menentang para Imam Besar Yahudi yang menjadi alat penjajah Romawi dan menjanjikan Tuhan Kehidupan.

Walaupun Yesus tidak menganjurkan sebuah revolusi sosial untuk menggulingkan Kaisar Romawi, ajaran-Nya tentang Cinta Kasih (Solidaritas Sejati) dan mesianisme “Kerajaan Allah”, “Kerajaan Bapa”, “Kerajaan Surga” mengandung roh revolusioner yang jauh lebih fundamental. Karena itulah ajaran Yesus dianggap sebagai ajaran yang paling subversif terhadap sistem exploitasi dalam berbagai bentuk.

Yesus kemudian didakwah oleh Para Imam Besar kepada Herodes Antipas dan selanjutnya dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus.

*****

BERTOLAK DARI KISAH Kolonialisme Romawi atas bangsa Yahudi diatas, mari kita lihat Kolonialisme Indonesia atas Bangsa Papua.

Kaisar Romawi di zaman Kristus tidak lain adalah SBY saat ini! Para Imam Besar, Tokoh Agama Yahudi adalah Para Tokoh Agama Kita, seperti Pendeta Herman Awom, S.Th, Pendeta Herman Saut, S.Th, Pendeta Phil Erari, S.Th, Uskup Leo Laba Ladjar, OFM, Uskup Nico Adi Saputra MSC, Pastor Yus Mewengkang MSC, dll! Elit-elit pribumi Yahudi saat itu adalah Jaap Salosa, MR. Kambu, John Ibo, Franz Wospakrik, Berth Kambuaya, Agus Rumansara, Piet Awangkok, dll. Tentara Pribumi Yahudi saat itu adalah ratusan tentara pribumi Papua saat ini.

Mirip dengan kolonialis Romawi, Kolonialis Indonesia juga memberikan kewenangan kepada bangsa Papua untuk mengurus diri sendiri melalui Otonomi Khusus. Pejabat-pejabat pribumi Papua, mulai dari Gubernur sampai Kepala Kampung, Ketua DPRD, Rektor, Kepala Sekolah dll dipelihara oleh Indonesia asalkan mereka loyal dan bisa menjamin agar perusahaan-perusahaan asing, bank-bank, Bisnis-bisnis Besar milik orang Pendatang bisa menghisap orang Papua dengan leluasa.

“Orang Kuat” Indonesia di Tanah Papua adalah Pangdam, Danrem, Kapolda, Kapolres, Para Perwira TNI/POLRI dan Ratusan Agen BIN yang menyusup untuk mengamankan kolonialisme Indonesia melalui lembaga-lembaga Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif, LSM-LSM (Elsham, LBH, Kontras Papua) Gereja-gereja, Kampus-Kampus (Senat-Senat). Mereka mengontrol aktivitas elit-elit pribumi dan membimbing “boneka-boneka” itu agar bekerja sesuai dengan pedoman kolonialisme yang telah ditetapkan.

Sebagaimana yang terjadi pada Para Tokoh Agama Yahudi di Zaman Kristus, para tokoh agama di Tanah Papua saat ini juga dikooptasi oleh penjajah Indonesia. Ratusan Ribu Umat Kristen Pribumi Papua adalah saksi hidup, yang hampir setiap hari menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana Ketua Sinode, Majelis, Bapa Gembala, Pastor, Uskup, Frater, Diakon saling berlomba-lomba mencari muka di depan pejabat kolonial.

Ratusan Ribu Umat Kristen Papua setiap hari membaca dan mendengar komentar-komentar para gembalanya yang amburadul di media massa, cetak maupun elektronik. Ratusan Ribu Umat Kristen Papua setiap minggu mendengar Kothbah yang jauh dari kenyataan pembasmian massal yang telah, sedang dan akan mereka alami di bawah penjajahan Indonesia. Dan saat ini, Ratusan Ribu umat Kristen Papua dibujuk untuk menyambut kedatangan Induk Predator yang selama ini memangsa mereka.

Kemesraan yang tiada taranya antara Tokoh Agama Kristen di Tanah Papua dengan Penguasa Kolonialis Indonesia membuat Ajaran Yesus tentang Pembebasan Kaum Tertindas kehilangan makna. Makna Pembebasan yang sebenarnya dari sistem menindas dan manusia yang rakus direduksi menjadi Pembebasan Dari Dosa. Hal ini membuat kolonialisme Indonesia yang selalu berjuang untuk memantapkan cengkeramannya atas bangsa Papua dengan mudah memberi warna keagamaan pada dirinya.

Kolonialisme Indonesia dibungkus dengan Agama Kristen sehingga mayoritas orang Papua yang beragama Kristen dapat dikuasai dengan mudah.

Sama seperti Kaisar Romawi yang beragama lain tapi bisa menaklukan bangsa Yahudi melalui tangan Tokoh Agama Yahudi sendiri, sekarang SBY yang beragama lain (Kejawen berkedok Islam) pada saat ini juga bisa menaklukan bangsa Papua melalui tangan Herman Awom, Herman Saut, Phil Erari, Leo Laba, dll. Kalau dulu Yahwe dan Agama Yahudi diarahkan untuk melayani Kaisar Romawi sehingga yang terjadi saat itu adalah “Senjata Makan Tuan”, maka sekarang pun demikian adanya. Yesus dan Agama Kristen diarahkan untuk melayani SBY sehingga yang terjadi adalah “Senjata Makan Tuan. “

Kemesraan yang dibina bersama pejabat kolonial Indonesia telah mendatangkan kesejahteraan, kemakmuran dan kepuasan hidup yang luar biasa bagi para Tokoh Agama di Tanah Papua. Mereka Mapan secara Ekonomi, Terhormat secara Sosial, Bebas berkeliaran kemana-mana walaupun tercatat sebagai Pentolan PDP, Dewan Adat, Informan Elsham, Peace and Justice Keuskupan (SKP) Papua, dlsbnya.

*****

MENGAPA PARA TOKOH Agama Kristen di Tanah Papua dengan mudah mengkhianati Rakyat Papua yang menurut pengakuan mereka adalah domba-dombanya? Mengapa para Tokoh Agama bersedia mengabdi untuk seorang presiden kolonial yang dididik dan dibesarkan dalam institusi TNI, sebuah institusi yang oleh Tengku Sofyan Dawood – Juru Bicara Militer TNA- disebut sebagai “Lembaga Terorisme Terbesar di Asia?”

Mengapa “mata” para tokoh agama tidak bisa berfungsi lagi sehingga mereka tidak bisa melihat sosok SBY sebagai seorang tentara yang tangannya berlumuran darah ribuan para pejuang Papua dan rakyat tidak berdosa yang dibunuh oleh TNI maupun darah ribuan perempuan Papua yang dikeluarkan cuma-cuma, hanya karena melahirkan “anak tanpa bapa?” Atau Darah Perawan Perempuan Papua yang menjadi korban kebiadaban TNI, yang kesemuannya itu adalah bagian dari upaya Membunuh Kualitas Generasi Papua sambil memupuk karier mereka dalam ketentaraan?

Kalau kita menelusuri sepak terjang tokoh Agama yang menjijikkan ini dengan seksama, maka kita dapat membuat semacam konklusi sementara, bahwa selain menjalankan Teologi Penaklukan versi kolonialis-Imperialis, sesuatu yang mereka harapkan dari SBY adalah Kado Natal, yang tidak lain adalah Draf Paket MRP yang sudah disahkan! Mengapa? Karena Draf MRP yang telah diinstall habis-habisan oleh Jakarta menjanjikan masa depan yang cerah bagi Tokoh Agama, Tokoh Perempuan, Tokoh Adat, LSM-LSM dan komponen-komponen lain dalam masyarakat Papua yang sudah jelas akan duduk sebagai anggota-anggota yang terhormat.

Mereka akan difungsikan sebagai alat untuk menegakkan nasionalisme Indonesia di Tanah Papua.

Hanya untuk tujuan itulah, para tokoh agama membanting tulang membantu Pemprov Papua menghadirkan SBY untuk Natalan, setelah selama hampir 4 (empat) tahun berkampanye siang malam bersama Foker LSM, Presidium Dewan Papua dan Dewan Adat Papua dalam rangka menjadikan Papua sebagai Zona Damai, satu-satunya kondisi obyektif yang bisa menjamin keberlangsungan penghisapan, pembantaian tanpa pembalasan, penghinaan ras, pencurian hutan, dan pencurian tanah oleh orang pendatang, sebuah upaya sistematis untuk men-Indian-kan atau meng-Aborigin-kan orang Papua.

Para tokoh Agama lupa bahwa Kado Natal bernama MRP yang akan diberikan kepada orang Papua adalah RACUN MAUT, karena MRP bertentangan dengan kondisi orang Papua sebagai Masyarakat Suku. MRP adalah bukti nyata penyangkalan terbuka terhadap 250-an suku pribumi Papua. Dengan lain perkataan, keberadaan 250-an suku di Tanah Papua – Tanah Leluhurnya- tidak diakui.

Yang bakal terjadi kalau MRP diterapkan adalah Dominasi Suku-suku Tertentu Terhadap Suku-suku lain. Kita bisa bilang : Ini Tokoh Agama, Ini tokoh Adat, ini tokoh Perempuan, ini tokoh ini, ini tokoh itu, dlsbnya. Tetapi, kalau kita cek asal suku, mereka pasti berasal dari suku-suku tertentu yang selama ini mendapat kepuasan tersendiri kalau menjadi antek Indonesia dan mengeksploitasi saudara/I Papua-nya yang suku lain.

Kita sudah bisa menebak dari sekarang bahwa MRP bukan untuk 250-an suku Papua, tetapi untuk suku-suku dan individu-individu Papua tertentu (Pendeta, Uskup, Kaum Awam, Aktivis LSM, Tokoh Adat, Tokoh Perempuan, Tokoh Intelektual, dll) yang selama ini dinilai oleh Indonesia adalah pihak yang mudah diajak kerja sama. Ini adalah konsekuensi logis dari penerapan demokrasi kolonial Indonesia, sebuah demokrasi yang lahir dari perkawinan antara demokrasi borjuis milik Kapitalis Barat dengan demokrasi Pancasila.

Dari 250-an suku yang ada, kemungkinan besar tidak akan lebih dari 10 suku yang akan duduk dalam MRP, sebuah Majelis buah tangan penjajah itu.

MRP yang anti suku-suku pribumi itu akan dipertahankan berdasarkan Undang-Undang OTSUS. Tetapi, UU OTSUS yang sedang diterapkan, nyata-nyata lebih membuka peluang bagi migran pendatang untuk semakin mempermantap posisi mereka di Tanah Papua sambil berusaha dengan segenap kemampuan yang ada untuk membuat Tanah Papua benar- benar menjadi Tanah Leluhur Anak Cucu mereka di kemudian hari.

Karena MRP yang anti suku hanyalah sebuah Majelis yang akan difungsikan untuk melestarikan kolonialisme Indonesia atas bangsa Papua, maka menyambut Kado Natal yang dibawa oleh SBY itu sama artinya dengan menyambut Kolonialisme yang di bungkus dengan Jubah Kristen yang diletakkan dalam Kandang Natal.

*****

PENDERITAAN BANGSA PAPUA dibawah Imperium NKRI tidak akan berakhir sejak kedatangan SBY di Tanah Papua! Upaya pemusnahan Massal yang sedang berlangsung tidak akan dihentikan sejak MRP diberlakukan karena persoalan bangsa Papua dan Indonesia adalah soal Kolonialisme, antara yang dijajah dengan penjajah, bukan antara yang lapar dengan yang kenyang atau antara yang haus dengan yang tidak haus.

SBY bukan penyelamat yang harus disambut ramai-ramai, karena dalam sejarah Planet Kita, tidak pernah kemerdekaan sebuah bangsa yang dijajah diberikan oleh seorang presiden kolonial.

Dalam sejarah, kalau presiden, raja atau ratu kolonial mengakui kemerdekaan sebuah bangsa jajahannya, itu hanya taktik bulus mereka karena takut akan bahaya Revolusi Sosialis yang melanda koloni-koloni mereka di Dunia Ketiga. Hal inilah yang terjadi pada negara-negara seperti Madagaskar yang adalah bekas koloni Perancis, Tanzania, Zambia, Papua Nugini, dll, yang adalah bekas koloni Inggris, melalui proses Dekolonisasi.

Rakyat Papua tidak perlu berharap, menggantungkan nasib mereka pada MRP atau kebijakan lain yang akan diambil oleh SBY untuk “membantu” orang Papua, karena MRP dalam OTSUS tidak bertujuan untuk menyelesaikan persoalan kolonialisme.

Kepemimpinan SBY sama dengan para pendahulunya : Soekarno sampai Megawati Soekarnoputri, tetaplah Presiden Kolonial. Sebagai orang Jawa yang berdarah Ningrat, memberikan kemerdekaan atau sekedar kebahagiaan bagi bangsa lain berarti mengurangi kekuasaanya sebagai Raja Jawa, sekaligus Jenderal Penakluk.

Rakyat Papua harus segera berhenti “Onani Pikiran” dengan MRP sambil menghayal surga di dunia lain seperti yang dianjurkan oleh para Tokoh Agama. Rakyat Papua harus segera sadar bahwa kekristenan mereka telah dimanipulasi untuk kepentingan perut dan kekuasaan Tokoh Agama mereka sendiri.

Mari kita sambut Pesta Natal tanpa memikirkan SBY, “Kaisar Romawi” itu. Mari kita sambut Yesus sebagai Pembebas Kaum Tertindas, bukan Pembebas Orang-Orang Berdosa, karena Konsep Dosa adalah murni Konsep Penjajah yang bertujuan untuk melindungi diri mereka dari serangan Kaum Terjajah.

Mari kita menempatkan Yesus dalam Demokrasi versi kita demi sebuah kehidupan yang lebih manusiawi, dimana setiap suku tidak lagi bernafsu untuk menjadi antek Indonesia dan memangsa suku yang lain seperti yang selama ini selalu terjadi. SBY = “Kaisar Romawi” Bagi Bangsa Papua!!!***

Jayapura, 21 Desember 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s