Sawit di Perbatasan Kalimantan: Bahaya Besar di Balik Rencana Besar

Posted on Updated on

Oleh : Sulung Prasetyo

JAKARTA – Rencana pemerintah membuka lahan sawit di sepanjang perbatasan Malaysia di Kalimantan, baru-baru ini, jelas mengundang keberatan banyak pihak. Sebab, di balik berlimpahnya keuntungan yang mungkin akan diterima pemerintah dengan adanya proyek ini, tersimpan sejumlah bahaya besar, yang tak sebanding dengan keuntungan sebesar apa pun yang akan didapat.

Sejarah perkebunan di Indonesia diawali dengan era tanam paksa. Setelah tahun 1870, barulah pemerintah Belanda melakukan reformasi agraria. Ini dilakukan dengan cara mengadakan liberalisasi pertanian bagi pihak swasta asing. Setelah era kemerdekaan, keseluruhan kongsi swasta asing pada perkebunan tersebut diambil-alih oleh pemerintah baru yang berkuasa. Barulah pada 1960, keluar Undang-undang pokok agraria, tentang Hak Guna Tanah (HGU) untuk perkebunan besar, seperti perkebunan kelapa sawit.

Perkebunan kelapa sawit dalam perjalanan sejarahnya meninggalkan banyak efek negatif, karena tanaman ini terkenal sebagai tanaman rakus air. Satu batang pohonnya membutuhkan enam hingga delapan liter air per hari. Kebutuhan yang tinggi ini pada akhirnya akan menghilangkan tali-tali air atau mata air yang berada di kawasan tersebut. Contoh gamblang kasus ini bisa dilihat di Sumatera yang memiliki sejarah lebih panjang dalam hal pembangunan perkebunan kelapa sawit. Saat ini tidak ada satupun tali air yang selamat apabila berada di sekitar perkebunan kelapa sawit.

Ini kemudian makin terbukti dengan ucapan Sekretaris kelompok kerja (Pokja) daerah aliran sungai (DAS) Batanghari Komunitas Konservasi Indonesia-Warung Informasi Konservasi (KKI-Warsi), Ir Aswandi Idris MSi di Jambi, Jumat (21/10) lalu. Ia, dalam kapasitasnya sebagai pengamat mengatakan, pembukaan perkebunan sawit di lahan gambut akan merusak lingkungan karena bisa menyebabkan terjadinya penurunan permukaan air dan tanah. “Ia memperkirakan, pada 2045 nanti akan terjadi penurunan atau amblasnya lapisan tanah sedalam tiga hingga empat meter, di daerah perkebunan sawit di Sumatera. Selain itu, ada juga kemungkinan terjadinya kebakaran besar-besaran, karena hilangnya fungsi penyerapan air pada tumbu-han,” ujarnya.

Kerugian akibat kurangnya penyerapan air dari tanaman sawit ini kemudian menjadi perhatian Walhi. Walhi mengadakan percobaan pada kasus penanaman sawit di sepanjang lajur perbatasan Indonesia – Malaysia di Kalimantan. Wilayah perbatasan yang banyak ditanami kelapa sawit tersebut, merupakan hulu dari berbagai aliran sungai. “Apabila pemerintah benar akan membuka daerah tersebut untuk penanaman sawit, berarti ada kemungkinan, bencana banjir akan menimpa Kalimantan di masa mendatang,” urai Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi, Sabtu (22/10) lalu.

Hal ini sangat mungkin terjadi. “Sungai yang mengalami pengendapan besar-besaran akibat proses pembangunan perkebunan, akan meluap pada musim hujan karena adanya pendangkalan,” urainya

Bahaya Sosial

Pembangunan perkebunan ini juga akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Dampaknya, Masyarakat yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut bisa mengalami kemiskinan secara struktural. Mungkin kita masih ingat, banjir bandang yang menimpa masyarakat Bohorok – Sumatra Barat.

Bencana itu mungkin saja akan terjadi di Kalimantan, di kawasan-kawasan pinggiran sungai. “Pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak harus dilakukan dengan merubah fungsi dan peruntukkan kawasan dengan memperkenalkan tanaman eksotis dan monokultur seperti sawit. Ada banyak pilihan hasil hutan nonkayu seperti rotan atau damar yang jauh lebih ramah terhadap ekosistem. Ini justru tidak pernah mendapat penanganan maksimal dari pemerintah,” kata Chalid Muhammad mencoba memberikan solusi masalah ini.

Secara eksplisit, proyek pembangunan sabuk sawit di perbatasan tersebut, mungkin memang akan mampu menutupi cadangan energi negara, melalui biodieselnya. Namun, kerugian yang ada jauh melebihi keuntungan yang kita punya.

Ini termasuk keuntungan tersembunyi senilai Rp 28 triliun, yang mungkin masuk ke dalam kantong pemilik konsesi perkebunan, melalui pengambilan kayu di proyek ini.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s