Transportasi, Kebutuhan Utama di Boven Digoel

Posted on Updated on

Oleh : Kornelis Kewa Ama

Setelah Kapal Motor Digoel tenggelam pada Agustus 2005 silam, tidak ada lagi kapal milik pemerintah yang melayari rute Merauke-Boven Digoel. Kini hanya ada kapal kecil milik swasta yang beroperasi di sana. Sulitnya alat transportasi itu menyebabkan harga kebutuhan pokok di Boven Digoel terus merangkak naik.

Transportasi darat antara Merauke-Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel, sampai hari ini belum dapat difungsikan menyusul hancurnya tujuh jembatan penyeberangan di ruas jalan sepanjang 700 kilometer tersebut.

Kepala Sub Bagian Umum Pemerintah Kabupaten Boven Digoel Petrus Rahayaan mengemukakan, kondisi kehidupan masyarakat Boven Digoel dengan jumlah penduduk sekitar 24.000 jiwa yang berada di tujuh distrik sangat memprihatinkan.

Sampai hari ini pihak berwenang belum mencarikan solusi terbaik untuk menggantikan peran KM Digoel. Padahal, kapal itu selama ini berperan sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Boven Digoel. Hanya tinggal dua kapal milik swasta, masing-masing dengan kapasitas muatan 500 kg dan 1.000 kg barang, namun ongkos angkutnya sangat tinggi sehingga sulit dijangkau masyarakat, papar Rahayaan.

Ia memberi contoh, harga beras Dolog yang sebelumnya Rp 40.000 melonjak menjadi Rp 80.000 per 20 kg. Harga minyak tanah dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000 per liter, harga premium naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 20.000 per liter. Harga-harga tersebut hanya berlaku di Tanah Merah. Adapun di distrik-distrik dan kampung-kampung harganya lebih mahal lagi, bahkan bisa berbeda sampai 500 persen.

Kenaikan harga barang kebutuhan pokok itu disebabkan ongkos angkut yang tinggi, sedangkan persediaan barang terbatas. Ada beberapa jenis kebutuhan pokok langka sejak dua bulan terakhir, seperti minyak tanah, beras, semen, premium dan gula pasir.

Di Tanah Merah terdapat sekitar 45 kios kecil yang menyediakan barang kebutuhan pokok dalam jumlah terbatas. Kios-kios itu milik warga pendatang, seperti Makassar, Toraja, Bugis, Buton, dan Maluku. Barang-barang itu didatangkan dengan pesawat, kendaraan segala medan seperti jenis hardtop dan kapal laut dari Merauke.

Runyam

Ridwan Muslim (25), seorang sopir mobil jenis hardtop, menuturkan, kendaraan jenis hardtop hanya mampu menembus Tanah Merah pada musim kemarau dengan jarak tempuh dua hari. Tetapi, kalau di tengah perjalanan turun hujan, mobil-mobil itu pun terkurung lama di jalan. Mereka hanya dapat keluar dari ruas jalur itu setelah kering.

Mobil jenis hardtop hanya mampu membawa barang paling banyak 500 kg dengan ongkos angkut sampai Rp 3,5 juta. Mobil hanya mengangkut lima penumpang dengan ongkos Rp 1 juta per penumpang. Runyamnya, akibat kondisi di lapangan, tidak semua sopir bersedia melewati rute Muting (Merauke)-Tanah Merah.

Merauke merupakan pusat distribusi barang ke kabupaten-kabupaten pemekaran di wilayah selatan. Pada umumnya, para pegawai negeri dan pengusaha kayu yang berbelanja di kios-kios itu. Masyarakat biasa masih tergantung pada hasil hutan dan alam sekitar. Sungai Boven Digoel sendiri menyediakan beberapa jenis ikan, seperti mujair, belut, arwana, dan udang. Kebutuhan lauk pauk diambil begitu saja dari sungai tersebut.

Sebelum tenggelam, ketergantungan masyarakat pada KM Digoel sangat tinggi. Kapal tersebut melayani masyarakat Boven Digoel sejak tahun 2004, setelah daerah itu dimekarkan menjadi kabupaten. Harga tiket jenis angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP) itu dapat dijangkau masyarakat.

Kapal tersebut melayari Sungai Boven Digoel sepanjang 1.210 km dari Tanah Merah menuju Laut Arafura kemudian sampai di Dermaga Merauke. Peran sungai itu sangat strategis karena membantu pelayaran menuju daerah terpencil di sejumlah daerah di pedalaman selatan Papua.

Angkutan udara

Adapun angkutan udara hanya dilayani satu penerbangan jenis Twin Otter milik Pemerintah Kabupaten Merauke dengan harga tiket Rp 850.000 per penumpang dan waktu tempuh sekitar 60 menit.

Dalam satu pekan, pesawat tersebut dua kali menerbangi Tanah Merah, yakni Minggu dan Selasa. Tetapi, pesawat yang sama juga melayani beberapa rute di wilayah selatan sehingga, apabila ada permintaan khusus dari Pemkab Merauke, jadwal tersebut dapat berubah.

Menurut Rahayaan, tidak semua warga masyarakat mampu membeli tiket pesawat. Hanya pejabat daerah, pengusaha, dan warga tertentu yang dapat menggunakan jasa penerbangan. Distrik terjauh adalah Waropko yang hanya dijangkau dengan pesawat.

Kondisi yang terjepit itu amat berpengaruh terhadap mobilitas anak-anak usia sekolah dari Boven Digoel dan sekitarnya ke Merauke guna melanjutkan pendidikan. Banyak pegawai Pemkab Boven Digoel yang terpaksa tidak bekerja optimal karena kesulitan transportasi ke Tanah Merah.

Wakil Ketua DPRD Boven Digoel Lukas Ikhwarau menuturkan, baik mau masuk maupun keluar Tanah Merah dewasa ini sangatlah sulit.

Kalau sudah telanjur masuk Tanah Merah, keluar dari daerah itu bisa membutuhkan waktu sampai sebulan, terutama bagi warga yang tidak memiliki penghasilan tetap, paparnya.

Oleh karena itu, lanjut Lukas Ikhwarau, kunci utama mengembangkan Tanah Merah dan sekitarnya melalui pengadaan sarana transportasi dan infrastruktur yang memadai. Tetapi, pekerjaan ini tidak mudah. Pemerintah daerah harus bekerja keras dan berkorban untuk kepentingan banyak orang.

Nomaden

Boven Digoel memiliki tujuh distrik dan sekitar 52 kampung. Belum satu pun ruas jalan yang menghubungkan Tanah Merah dengan distrik-distrik tersebut dapat dilalui kendaraan.

Masih ada puluhan kampung yang terpencil dan terisolasi di perbatasan RI-Papua Niugini yang tidak pernah tersentuh pembangunan. Sebagian besar masyarakat di daerah perbatasan itu masih mengenakan koteka dan cawat. Hidup mereka masih nomaden (berpindah) dan tidak memiliki permukiman atau tempat tinggal tetap.

Pembangunan infrastruktur jalan darat ke setiap distrik di Boven Digoel diperkirakan membutuhkan dana triliunan rupiah. Karena itu, tidak dapat dikerjakan dalam jangka waktu 5-10 tahun saja, tetapi bisa lebih dari 20 tahun. Sebagian daerah kondisi geografisnya berawa, berupa pegunungan tinggi, jurang terjal, dan berbagai sungai-sungai panjang dan dalam.

Ikhwarau menilai Bupati Boven Digoel harus melakukan berbagai terobosan untuk membuka daerah-daerah terisolasi di Boven Digoel. Tetapi, perlu dukungan dana dari pemerintah pusat dan dukungan moral seluruh komponen masyarakat setempat.

Kepemimpinan bupati dan wakil bupati ke depan pun sangat menentukan kemajuan pembangunan di Boven Digoel. Dewan siap mendukung bupati sebagai partner pembangunan di daerah ini, tutur Ikhwarau.

Memang, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu dari empat sasaran pokok Undang-Undang Otonomi Khusus Papua, selain pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan.

Dibuka Belanda

Tanah Merah sebagai ibu kota Boven Digoel dibuka tahun 1927 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Semenjak itu, citra Tanah Merah identik dengan penderitaan dan perlakuan kejam pemerintah kolonial Belanda terhadap para tawanan Belanda waktu itu. Setelah Merauke dibuka tahun 1935, para tawanan di Tanah Merah sebagian dipindahkan ke Merauke.

Penduduk Tanah Merah pada tahun 1927 hanya warga pendatang, yakni pegawai sipil atau militer, ditambah para tawanan. Bangunan gereja Katolik dibangun di tengah-tengah permukiman Tanah Merah dengan pastor pertama Pastor Thieman MSC.

Seiring perkembangan di Tanah Merah, wilayah Mindiptana dan Kepi pun berkembang pesat pada waktu itu. Masyarakat asli sibuk membangun rumah dengan corak arsitektur yang dibawa dari luar oleh warga pendatang.

Gereja Katolik pada waktu itu mulai merintis pendidikan dengan membuka dua sekolah bagi anak-anak warga setempat. Tetapi, sekolah-sekolah ini kemudian tidak beroperasi optimal saat pecah Perang Dunia II.

Pada waktu itu masyarakat sudah membuka isolasi jalan dari Tanah Merah ke Mindiptana dan merupakan jalan darat terpanjang pertama di pedalaman Papua. Tetapi, jalan ini tidak pernah diaspal sehingga, ketika terjadi hujan, tak satu kendaraan pun yang mau melintas.

Namun, sampai hari ini, setelah 60 tahun merdeka, nasib jalan itu seperti jalan-jalan lainnya di Papua, tak pernah berubah. Warga setempat benar-benar merindukan pembangunan infrastruktur yang bisa memudahkan mereka memiliki akses ke dunia luar.

One thought on “Transportasi, Kebutuhan Utama di Boven Digoel

    Nazib said:
    12 November, 2008 pukul 2:10 am

    perkenalkan saya nazib faizal, puslitbang jalan dan jembatan…
    kalau boleh usul pak, pembangunan jalan di sana harus memperhatikan masalah geotekniknya….karena dari peta geologi, daerah tersebut merupakan endapan rawa, jadi proses terjadinya penurunan jalan sangat mungkin terjadi..sehingga jalan akan amblas tersebut….faizal1779@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s